sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

BEI Cecar DKHH, Dana IPO Buat Bangun RS Malah Dipakai untuk Pinjaman

Market news editor Rahmat Fiansyah
30/06/2026 05:00 WIB
Bursa Efek Indonesia (BEI) menyoroti dana hasil penawaran umum PT Cipta Sarana Medika Tbk (DKHH) yang digunakan tidak sesuai dengan prospektus.
BEI menyoroti dana hasil penawaran umum PT Cipta Sarana Medika Tbk (DKHH) yang digunakan tidak sesuai dengan prospektus. (Foto: Ist)
BEI menyoroti dana hasil penawaran umum PT Cipta Sarana Medika Tbk (DKHH) yang digunakan tidak sesuai dengan prospektus. (Foto: Ist)

IDXChannel - Bursa Efek Indonesia (BEI) menyoroti dana hasil penawaran umum PT Cipta Sarana Medika Tbk (DKHH) yang digunakan tidak sesuai dengan prospektus IPO. Perseroan membantah dan memastikan tetap sesuai prospektus.

Pemilik DKH Hospitals tersebut sebelumnya meraih dana IPO sebesar Rp69,96 miliar. Sesuai prospektus, dana tersebut akan digunakan untuk membangun gedung rumah sakit (RS) hingga modal kerja. 

Belakangan, sebagian dana itu dipakai untuk memberikan pinjaman kepada perusahaan berelasi, yakni PT Siliwangi Djajakusumah Hospital (SDH) dan PT Siliwangi Djajakusumah Bersatu (SDB) masing-masing Rp30,34 miliar dan Rp8,32 miliar.

Direktur Utama DKHH, Satria Muhammad Wilis mengatakan, perseroan tetap berkomitmen menggunakan dana IPO sesuai rencana dalam prospektus.

"Penempatan dana dalam bentuk pinjaman kepada pihak berelasi dilakukan secara sementara terhadap dana yang belum digunakan, dengan perjanjian yang jelas dan tingkat bunga yang wajar," katanya dalam surat jawaban kepada BEI, Senin (29/6/2026).

Perseroan bersama perusahaan afiliasi resmi menandatangani perjanjian pada 2025. Isinya memberikan pinjaman dengan tenor 1 tahun dan bunga 11 persen. Tujuan sebagai bridging loan untuk operasional.

Satria mengatakan, penetapan bunga pinjaman sebesar 11 persen mengacu pada tingkat bunga pinjaman komersial yang berlaku di pasar. Dalam hal ini, perseroan mempertimbangkan prinsip kewajaran (arm's length principle) agar bunganya tidak lebih rendah daripada tingkat bunga pasar.

Satria juga menegaskan bahwa perseroan akan menggunakan dana IPO tersebut sesuai dengan prospektus. Perseroan tidak mengungkapkannya dalam prospektus dengan dalih bahwa transaksi pinjaman tersebut hanyalah kebijakan internal dan tidak mengubah tujuan dari penggunaan dana IPO.

Sebagai bentuk komitmen, perseroan juga telah membayar uang muka pembangunan gedung RS sebesar Rp20,25 miliar (nilai kontrak Rp35 miliar) serta uang muka untuk membeli CT-Scan sebesar Rp3 miliar (nilai kontrak Rp5 miliar). Hal ini mencerminkan bahwa dana IPO diarahkan sesuai janji dalam prospektus.

Perseroan juga menjelaskan soal perubahan vendor kontraktor pembangunan gedung dan peralatan medis CT-Scan. Untuk kontraktor, proyek diberikan kepada PT Citra Adiatama Indonesia, sedangkan peralatan medis diberikan kepada PT Rapha Tunas Medika.

Satria mengatakan, perubahan ini disesuaikan setelah perseroan melakukan evaluasi ulang dan memutuskan vendor baru lebih memenuhi kebutuhan dari sisi teknis, efisiensi biaya, dan kepastian waktu penyelesaian.

"Penunjukan vendor pengganti dilakukan sesuai prosedur internal dan prinsip tata kelola perusahaan yang baik," ujarnya.

(Rahmat Fiansyah)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement