AALI
9725
ABBA
394
ABDA
0
ABMM
1420
ACES
1220
ACST
232
ACST-R
0
ADES
3000
ADHI
1025
ADMF
7725
ADMG
198
ADRO
1815
AGAR
330
AGII
1505
AGRO
1925
AGRO-R
0
AGRS
176
AHAP
81
AIMS
456
AIMS-W
0
AISA
206
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
920
AKRA
4190
AKSI
424
ALDO
1035
ALKA
244
ALMI
250
ALTO
272
Market Watch
Last updated : 2021/12/03 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
501.87
-1.3%
-6.63
IHSG
6538.51
-0.69%
-45.31
LQ45
938.93
-1.11%
-10.56
HSI
23766.69
-0.09%
-22.24
N225
28029.57
1%
+276.20
NYSE
0.00
-100%
-16133.89
Kurs
HKD/IDR 1,845
USD/IDR 14,395
Emas
819,409 / gram

Berpeluang Konsolidasi, Ini Sentimen yang Akan Pengaruhi IHSG

MARKET NEWS
Aditya Pratama/iNews
Minggu, 17 Oktober 2021 18:08 WIB
Direktur Ekuator Swarna Investama, Hans Kwee, memprediksi akan banyak sentimen yang memengaruhi pergerakan IHSG sepanjang pekan besok.
Berpeluang Konsolidasi, Ini Sentimen yang Akan Pengaruhi IHSG. (Foto: MNC Media)
Berpeluang Konsolidasi, Ini Sentimen yang Akan Pengaruhi IHSG. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Direktur Ekuator Swarna Investama, Hans Kwee, memprediksi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama pekan ketiga Oktober 2021 bakal mendapatkan banyak sentimen, baik itu berasal dari dalam negeri maupun luar negeri.

Sentimen pertama datang dari penguatan indeks utama Wall Street berkat laporan kinerja keuangan emiten di kuartal ketiga 2021 yang lebih baik dari perkiraan. Beberapa emiten yang mulai melaporkan kinerja keuangannya antara lain Walgreens Boots Aliance, United Health, Bank of America dan yang lainnya. 

Dari delapan anggota Indeks S&P 500 yang telah melaporkan laba, semuanya mengalahkan ekspektasi laba per saham (EPS) dari perkiraan analis. Pasar Wall Street mulai reli ke atas didorong oleh kinerja pendapatan emiten yang lebih baik dan diperkirakan akan berlanjut. 

"Pasar akan melihat hasilnya dalam beberapa pekan ke depan karena sebagian besar emiten di semua sektor akan merilis kinerja kuartal ketiga. Kinerja Emiten di Indeks S&P 500 akan sangat mempengaruhi pergerakan pasar pekan ini," ujar Hans dalam keterangan tertulis, Minggu (17/10/2021).

Sentimen selanjutnya terkait dengan Fed Minutes/Risalah rapat bank sentral pada 21-22 September 2021, dimana terungkap bahwa jika proses pemulihan ekonomi Amerika berjalan sesuai dengan jalurnya maka bank sentral akan mulai melakukan pengurangan pembelian obligasi senilai USD120 miliar per bulan.

Petinggi Federal Reserve memberi isyarat mulai mengurangi dukungan era krisis untuk ekonomi paling cepat pada pertengahan November. 

"Program QE mungkin akan berakhir pada pertengahan tahun 2022. Pejabat The Fed tetap terpecah mengenai seberapa besar ancaman yang ditimbulkan oleh lonjakan inflasi dan seberapa cepat mereka mungkin perlu menaikkan suku bunga sebagai tanggapan kenaikan inflasi," kata dia.

Kemudian, sentimen lainnya adanya kekhawatiran investor yang mencemaskan kenaikan inflasi yang disebabkan oleh krisis energi global, kemacetan rantai pasokan dan kekurangan tenaga kerja yang memperlambat rebound laba perusahaan dari guncangan pandemi. 

Pasar energi terfokus pada bagaimana krisis pasokan akan mempengaruhi permintaan minyak, terutama di ekonomi terbesar kedua dunia China. Krisis energi yang parah mencengkeram China saat ini.

India mengalami kekurangan listrik terburuk sejak 2016 karena kekurangan pasokan batu bara, konsumsi bahan bakar merangkak lebih tinggi pada September karena aktivitas ekonomi meningkat. 

"Krisis energi dapat memicu inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia. Arab Saudi menolak seruan untuk peningkatan produksi tambahan OPEC Plus, dengan mengatakan penghentian pengurangan produksi kelompok itu melindungi pasar minyak dari perubahan harga yang liar, seperti terlihat di pasar gas alam dan batu bara," ucapnya.

Sementara itu, sentimen dalam negeri akan dipengaruhi dari rilis laporan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukan neraca perdagangan pada September 2021 mencatatkan surplus sebesar USD4,37 miliar.

Tren surplus berlanjut sejak Mei 2020 dan telah mengalami surplus selama 17 bulan berturut-turut. Kinerja surplus yang impresif tersebut ditopang oleh peningkatan ekspor Indonesia pada September 2021 dengan mencapai USD20,60 miliar, meningkat double digit sebesar 47,64% (yoy). 

Berikutnya, dampak tapering mungkin tidak akan terlalu besar mengguncang pasar keuangan Indonesia karena beberapa hal berikut ini. Yang pertama The Fed sudah sangat transparan dalam hal komunikasi terkait perubahan kebijakan moneternya, khususnya prospek ekonomi seperti tingkat inflasi dan angka pengangguran serta kapan tapering akan dilakukan.

Hal ini membuat kebijakan ini sudah diantisipasi cukup lama pelaku pasar dan pembuat kebijakan. Bank Indonesia (BI) sebagai regulator juga terlihat siap mengantisipasi dampak tapering-off dari jauh-jauh hari, termasuk kesiapan untuk melakukan intervensi di pasar spot hingga pembelian SBN di pasar sekunder. 

"Kondisi ekonomi makro Indonesia lebih baik ketimbang tahun 2013, yang tercermin dari meningkatnya cadangan devisa serta deficit transaksi berjalan yang terjadi di level rendah. Fundamental Ekonomi yang lebih kuat membuat guncangan tapering akan lebih kecil dibandingkan tahun 2013," tuturnya.

Selanjutnya, kinerja keuangan Emiten di beberapa bursa global akan mempengaruhi pergerakan pasar saham pekan ini. Kepastian kapan tapering akan dilakukan terlihat tidak membuat pasar panik, bahkan di respon positif oleh pelaku pasar. Tapering kali ini tidak akan terlalu negative bagi pasar keuangan global termasuk pasar keuangan Indonesia. 

"Data dalam negeri Indonesia cukup baik. IHSG berpeluang konsolidasi melemah akibat aksi profit taking dengan support di level 6.552 sampai 6.436 dan resistance di level 6.680 sampai 6.800," jelasnya. (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD