Perbaikan EBITDA ini secara langsung merefleksikan adanya peningkatan aktivitas operasional di kawasan industri perseroan serta kedisiplinan manajemen dalam mengendalikan biaya operasional secara ketat.
Pembenahan aspek manajerial dan efisiensi biaya yang ketat di tingkat operasional kini mulai membuahkan hasil nyata pada neraca laba rugi perseroan. Capaian positif ini sekaligus menandai titik balik perseroan setelah sempat didera tekanan keuangan yang cukup berat pada tahun lalu.
"Sementara itu, laba bersih juga menunjukkan pemulihan yang signifikan dari rugi bersih sebesar Rp33 miliar pada kuartal pertama tahun lalu, pada tahun ini perseroan berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp9 miliar," kata Rika.
Pulihnya kinerja laba bersih tersebut turut mendorong margin bersih perseroan naik dari posisi negatif 73 persen menjadi positif 10 persen pada awal tahun ini. Pembalikan performa keuangan BEST pada kuartal pertama tahun 2026 ini merefleksikan kedisiplinan perseroan dalam menjaga stabilitas bisnis sewa, mengelola beban pembiayaan secara terukur, serta mempertahankan daya saing pemasaran lahan industri.
Menatap sisa tahun ini, perseroan berkomitmen penuh untuk menggenjot volume penjualan lahan, mendongkrak pendapatan berulang (recurring income), mengoptimalkan profitabilitas, serta memperkokoh posisi keuangan guna menciptakan nilai jangka panjang yang optimal bagi seluruh pemegang saham.
(Rahmat Fiansyah)