IDXChannel - Bobot Indonesia di indeks MSCI Emerging Markets (EM) diperkirakan menyusut tajam menjadi sekitar 0,5 persen dari sebelumnya 0,7 persen setelah hasil rebalancing MSCI Mei 2026 memicu gelombang pengurangan saham Indonesia di indeks global.
Kondisi ini dinilai berpotensi memicu arus keluar dana asing puluhan triliun rupiah, sekaligus menekan sentimen pasar dalam jangka pendek.
Menurut riset Mirae Asset Sekuritas tertanggal Rabu (13/5/2026), MSCI mengeluarkan enam emiten dari indeks Standard Cap. Dari enam saham tersebut, hanya PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) yang dipindahkan ke indeks Small Cap.
Sementara itu, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), serta PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) sepenuhnya terdepak dari indeks MSCI.
Tak hanya itu, MSCI juga menghapus 13 saham Indonesia dari indeks Small Cap, yakni PT ANTAM (Persero) Tbk (ANTM), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO).
Kemudian, PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI), PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN), PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM), PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), dan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG).
Dengan demikian, total ada 19 saham Indonesia yang dieliminasi dalam rebalancing kali ini.
Mirae menilai hasil tersebut mencerminkan dampak pembekuan rebalancing sejak Januari lalu yang berkaitan dengan isu transparansi kepemilikan saham. Meski demikian, pasar mulai melihat risiko Indonesia keluar dari kategori emerging market mulai mereda.
“Deletion without addition mendominasi,” tulis analis Mirae dalam risetnya.
Mirae memperkirakan penurunan bobot Indonesia di MSCI EM hingga sekitar 27 persen tersebut dapat memicu arus keluar dana gabungan pasif dan aktif sekitar USD1,7 miliar dari enam saham yang keluar dari Standard Cap.
Jika memperhitungkan penurunan bobot saham konstituen lainnya, total potensi outflow diproyeksikan mencapai sekitar USD2,8 miliar.
Meski tekanan jual diperkirakan masih berlanjut menjelang implementasi efektif pada 29 Mei 2026, Mirae menilai sebagian besar sentimen negatif telah tercermin di pasar.
“Tekanan menjelang implementasi 29 Mei masih mungkin, namun yang terburuk sebagian besar terlewati—sentimen diperkirakan pulih bertahap,” tulis Mirae.
Pandangan berbeda disampaikan Phintraco Sekuritas yang menilai hasil rebalancing MSCI kali ini justru berada di bawah ekspektasi pasar karena jumlah saham Indonesia yang dikeluarkan lebih besar dari perkiraan awal.
“Rebalancing MSCI Mei 2026 cenderung di bawah ekspektasi pasar, karena jumlah saham Indonesia yang dikeluarkan lebih banyak dari perkiraan awal,” tulis Phintraco dalam risetnya.
Phintraco menilai kondisi tersebut mencerminkan berkurangnya representasi saham Indonesia dalam MSCI Global Standard Indexes yang menjadi acuan utama investor institusi global.
Dengan country weight Indonesia sekitar 0,72 persen, Phintraco memperkirakan rebalancing MSCI kali ini berpotensi memicu arus keluar dana asing sekitar Rp28 triliun hingga Rp31 triliun akibat penyesuaian portofolio investor global berbasis MSCI.
Menurut Phintraco, keluarnya sejumlah saham dari indeks MSCI juga berpotensi menekan likuiditas dan foreign flow dalam jangka pendek, terutama pada saham-saham yang terdampak langsung.
“Secara keseluruhan, hasil rebalancing ini dapat menjadi sentimen negatif bagi IHSG karena mencerminkan berkurangnya representasi saham Indonesia dalam indeks MSCI,” tulis Phintraco. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.