IDXChannel - PT Barito Pacific Tbk (BRPT) mencatat kinerja positif dalam tiga bulan pertama tahun ini. Perusahaan milik konglomerat Prajogo Pangestu itu membukukan laba bersih sebesar USD90 juta atau setara dengan Rp1,5 triliun.
Capaian tersebut didukung oleh pendapatan bersih perseroan yang meningkat 232 persen menjadi USD2,57 miliar. Bisnis petrokimia menjadi penopang utama dengan kontribusi 93,5 persen terhadap pendapatan, diikuti energi sebesar 6,4 persen.
Peningkatan pendapatan ini berasal dari anak usaha, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang mencatata kinerja kilang (refinery) yang kuat dan integrasi aset ritel ExxonMobil di Singapura.
Direktur Utama Barito, Agus Pangestu mengatakan, kuartal pertama 2026 berlangsung di tengah kondisi yang dinamis dan penuh ketidakpastian. Hal ini ditandai oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta lonjakan tajam harga minyak global.
"Di tengah volatilitas tersebut, performa refinery yang kuat mendorong kinerja konsolidasi operasional kuartalan tertinggi sepanjang sejarah," katanya dalam keterangan resmi, Senin (4/5/2026).
Pada kuartal I-2026, EBITDA Barito tumbuh 288 persen, yang mencapai rekor tertinggi kuartalan sebesar USD567 juta dengan margin 22,06 persen. Kinerja ini didorong oleh margin kilang yang kuat pada operasi Singapura yang ditopang oleh tingginya crack spread regional, optimalisasi bauran produk, serta disiplin dalam pengadaan bahan baku.
Sejalan dengan tujuan strategis, perseroan telah menuntaskan akuisisi jaringan SPBU Esso di Singapura yang terkonsolidasi dalam laporan keuangan kuartal I-2026. Akuisisi ini memperkuat ekosistem hilir melalui perluasan jaringan ritel serta pendalaman integrasi di sepanjang rantai nilai.
"Kami memperkirakan transaksi ini akan memberikan kontribusi positif terhadap laba sejak awal, didukung oleh arus kas yang solid, peningkatan margin, serta sinergi operasional dan komersial yang teridentifikasi," ujarnya.
Untuk segmen energi, Star Energy di bawah PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) terus memperkuat platform geotermalnya. Hal itu ditandai dengan penyelesaian retrofit Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Wayang Windu, sehingga meningkatkan kapasitas terpasang menjadi 962 MW.
Dari sisi bottom line, Barito membukukan laba bersih setelah pajak sebesar USD271 juta, tumbuh 803 persen secara tahunan. Sementara laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai USD90 juta, melesat 462 persen.
Posisi keuangan Barito juga cukup kuat dengan aset sebesar USD17,6 miliar. Di tengah volatilitas, profil likuiditas juga solid dengan net debt to equity stabil di kisaran 0,77 kali.
Agus menyebut, perseroan mengawali 2026 dengan fondasi yang kuat, didukung oleh kinerja operasional yang tangguh serta kontribusi awal dari berbagai inisiatif strategis.
"Meskipun prospek jangka pendek masih diwarnai dinamika dan ketidakpastian geopolitik, kami tetap mempertahankan sikap optimisme yang terukur, didukung oleh platform terintegrasi, eksekusi yang disiplin, serta portofolio yang terdiversifikasi. Keunggulan ini menempatkan kami pada posisi yang baik untuk menjaga kinerja sepanjang siklus," katanya.
(Rahmat Fiansyah)