IDXChannel - PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID) masih mencatatkan kerugian USD81 juta atau setara Rp1,33 triliun (kurs Rp16.500 per USD) hingga kuartal III-2025.
Kerugian tersebut disebabkan EBITDA yang lebih rendah dan pencadangan piutang untuk operasional Australia. EBITDA hingga September 2025, tercatat USD127 juta dengan margin 14 persen.
Direktur BUMA Iwan Fuad Salim mengatakan, sebagian kerugian ini diimbangi oleh keuntungan nilai wajar dari 29Metals, beban bunga yang lebih rendah, manfaat pajak, dan pergerakan kurs mata uang yang menguntungkan.
"Memasuki akhir tahun, fokus kami tetap pada mempertahankan capaian perbaikan ini, menjaga margin, dan memperkuat keunggulan operasional di seluruh bisnis," ujar Fuad dalam keterbukaan informasi, Jumat (28/11/2025).
Sejalan dengan kerugian, pendapatan DOID tercatat USD1,131 miliar, turun 16 persen YoY, terutama akibat lebih rendahnya volume dari bisnis kontraktor tambang sebagai dampak gangguan pada kuartal pertama.
Average Selling Price (ASP) relatif stabil pada 1 persen YoY, didukung porsi kontrak rise-and-fall yang lebih tinggi sehingga membantu meredam pelemahan harga batu bara.
Lalu pendapatan dari bisnis kepemilikan tambang, Atlantic Carbon Group Inc (ACG), meningkat menjadi USD45 juta dari USD12 juta pada tahun lalu, mencerminkan kontribusi penuh di periode 2025.
Sementara itu, kinerja kuartal II mengalami perbaikan dengan pendapatan USD400 juta atau tumbuh 6 persen meski masih mencatatkan kerugian USD1 juta.
Momentum pemulihan yang berlangsung sejak kuartal II ini didukung dengan meningkatnya jam kerja efektif dan waktu siklus (cycle time) yang lebih singkat di berbagai site operasional utama.
"Kinerja kuartal ketiga menunjukkan bahwa pemulihan kami semakin menguat. Jam kerja efektif yang lebih tinggi, cycle-time yang lebih singkat, dan pengendalian biaya yang lebih ketat menghasilkan volume yang lebih baik, biaya per unit yang lebih rendah, dan EBITDA yang lebih kuat," tutur Fuad.
Adapun belanja modal perseroan mencapai USD149 juta, atau naik 12 persen YoY. Dengan 54 persen dialokasikan untuk mempertahankan keandalan dan kesiapan armada, dan 46 persen diarahkan untuk mendukung pertumbuhan melalui peningkatan kapasitas di sejumlah site utama di Indonesia.
(DESI ANGRIANI)