Di sisi lain, bursa Australia menguat dengan indeks S&P/ASX 200 naik 0,85 persen karena harga emas, minyak, dan aluminium yang tinggi menopang saham komoditas.
Bursa China dan Hong Kong juga bergerak positif dengan Shanghai Composite naik 0,57 persen, Hang Seng menguat 0,56 persen, dan STI Singapura naik 0,42 persen.
Harga minyak yang melesat menjadi pendorong utama gejolak pasar, seirinh Brent mendekati USD115 per barel dan mencatat kenaikan bulanan sekitar 59 persen, terbesar sepanjang sejarah, sementara WTI menuju kenaikan sekitar 56 persen. Kondisi ini memicu kekhawatiran inflasi global dan menekan selera risiko investor.
Kepala Riset Makro Asia ex-Japan di Mizuho, Vishnu Varathan, mengatakan pasar kini mulai bergerak dalam mode ketakutan seiring meningkatnya ketegangan konflik.
“Pasar tampaknya beralih dari sekadar merespons headline menjadi lebih berhati-hati dan mengurangi risiko karena kekhawatiran konflik akan berlangsung lebih lama,” ujarnya, seperti dikutip Reuters.