AALI
9275
ABBA
280
ABDA
0
ABMM
2410
ACES
720
ACST
192
ACST-R
0
ADES
6225
ADHI
815
ADMF
8200
ADMG
177
ADRO
3250
AGAR
310
AGII
2220
AGRO
750
AGRO-R
0
AGRS
113
AHAP
99
AIMS
252
AIMS-W
0
AISA
154
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1545
AKRA
1160
AKSI
272
ALDO
745
ALKA
296
ALMI
308
ALTO
193
Market Watch
Last updated : 2022/08/18 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
546.99
1.02%
+5.51
IHSG
7186.56
0.74%
+53.11
LQ45
1026.34
0.98%
+9.98
HSI
19763.91
-0.8%
-158.54
N225
28942.14
-0.96%
-280.63
NYSE
0.00
-100%
-15846.79
Kurs
HKD/IDR 1,889
USD/IDR 14,765
Emas
836,469 / gram

Bursa Asia Bergerak Mixed, Dipicu Sentimen dari AS dan China

MARKET NEWS
Dinar Fitra Maghiszha
Senin, 11 Oktober 2021 12:12 WIB
Bursa saham di kawasan Asia terpantau bergerak variatif pada Senin (11/10).
Bursa Asia Bergerak Mixed, Dipicu Sentimen dari AS dan China (Dok.MNC Media)
Bursa Asia Bergerak Mixed, Dipicu Sentimen dari AS dan China (Dok.MNC Media)

IDXChannel - Bursa saham di kawasan Asia terpantau bergerak variatif pada Senin (11/10) dipicu oleh sejumlah faktor dari China dan Amerika Serikat.

Nikkei 225 Jepang (N225) dibuka melemah di 27.977,57, lalu bergerak melonjak (1,57%) di 28.490,61 pada pukul 11:16 WIB. Penurunan Yen memberikan dorongan baik pergerakan N225, membalikkan koreksi yang terjadi pada waktu sebelumnya.

Shanghai Composite China (SSEC) dibuka naik di 3.600,36 lalu melesat (0,38%) di 3.605,76, pukul 11:37 WIB. Penguatan sejumlah emiten bluechips China mendorong penguatan indeksnya.

Kospi Korea Selatan (KS11) masih tutup, dan Hang Seng Hong Kong (HSI) bergerak melambung (2,23%) di 25.391,37.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia dibuka menguat di 6.482,958, meskipun masih tertekan aksi jual (-0,30%) di 6.462,313 pada penutupan sesi pertama. Kendati demikian, IHSG mampu memecahkan rekor baru dengan menyentuh level resisten sekaligus titik tertingginya dalam setahun terakhir di 6.506,092.

Secara garis besar, ekonomi di kawasan Asia masih berjuang dalam pemulihan ekonomi di tengah kenaikan krisis energi yang melanda dunia. Masalah rantai pasokan, khususnya persediaan chip teknologi masih menjadi tantangan hingga tahun depan.

"Kekurangan chip di tingkat global masih akan jadi masalah hingga tahun depan, menambah ketidakpastian lebih lanjut terhadap pemulihan ekonomi, di tengah krisis energi saat ini" kata analis ANZ dalam sebuah catatan, dilansir Reuters, Senin (11/10/2021).

Sementara itu, sentimen dari Negeri Paman Sam menghadirkan fokus utama berupa data penjualan ritel dan juga inflasi. Rilis data payroll AS dinilai mengecewakan lantaran tidak sesuai ekspektasi.

Ekonom dari Bank of America memperingatkan gelombang inflasi global akan diperburuk oleh biaya energi, yang memungkinkan harga minyak berpotensi menembus USD 100 per barel di tengah pasokan yang ketat dan pemulihan permintaan yang tinggi.

(IND) 

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD