IDXChannel – Bursa saham Asia cenderung melemah pada Senin (16/3/2026) seiring meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk yang membuat harga minyak tetap di level tinggi.
Di pasar saham, indeks Nikkei 225 di Jepang turun 0,78 persen dan Topix tergelincir 0,34 persen, sedangkan saham Korea Selatan (KOSPI) naik tipis 0,03 persen setelah keduanya melemah pekan lalu.
Sementara, Shanghai Composite berkurang 0,43 persen, Hang Seng Hong Kong minus 0,35 persen, dan ASX 200 Autralia terdepresiasi 0,37 persen.
Berbeda, STI Singapura naiik 0,36 persen hingga pukul 08.39 WIB.
Melansir dari Reuters, kondisi perang Timur Tengah mempersulit prospek inflasi dan diperkirakan membuat sebagian besar bank sentral menahan kebijakan pada rapat pekan ini, kecuali satu bank sentral yang berpotensi menaikkan suku bunga.
Di tengah situasi tersebut, muncul sedikit harapan setelah The Wall Street Journal melaporkan pemerintahan AS Donald Trump berencana mengumumkan paling cepat pekan ini bahwa sejumlah negara telah sepakat membentuk koalisi untuk mengawal kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Trump juga mengatakan kepada Financial Times bahwa masa depan North Atlantic Treaty Organization (NATO) akan sangat buruk jika para sekutunya tidak ikut membantu.
Sementara itu, para menteri luar negeri Uni Eropa dijadwalkan membahas penguatan misi angkatan laut kecil di Timur Tengah pada Senin, meskipun operasi di Selat Hormuz dinilai sarat risiko.
Pasar minyak bergerak hati-hati. Harga minyak Brent naik tipis 0,1 persen menjadi USD103,27 per barel, sementara minyak mentah Amerika Serikat turun 0,7 persen ke USD97,99 per barel.
Para pembuat kebijakan di AS, Inggris, Eropa, Jepang, Australia, Kanada, Swiss, dan Swedia akan menggelar rapat kebijakan penuh pertama sejak pecahnya perang, dengan lonjakan harga energi membayangi keputusan mereka.
Kepala ekonom di JPMorgan, Bruce Kasman, mengatakan proyeksi bank sentral kini akan condong pada inflasi yang lebih tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah.
Menurut dia, kondisi tersebut membuat banyak bank sentral menunda atau bahkan membatalkan langkah kebijakan yang sebelumnya diperkirakan terjadi pada Maret dan April.
“Perkembangan di lapangan menunjukkan potensi kenaikan harga lebih lanjut dan kemungkinan premi risiko tetap tinggi,” kata Kasman.
Di kawasan regional, perhatian juga tertuju pada data ekonomi China yang dirilis Senin.
Penjualan ritel pada Februari diperkirakan meningkat setelah awal tahun yang lesu, sementara pertumbuhan produksi industri diperkirakan bertahan di sekitar 5 persen.
Pejabat tinggi AS dan China juga bertemu di Paris untuk membahas potensi kesepakatan di bidang pertanian, mineral kritis, dan perdagangan terkelola yang akan dipertimbangkan oleh Trump dan Presiden China Xi Jinping dalam pertemuan di Beijing.
Di Wall Street, kontrak berjangka S&P 500 dan Nasdaq Composite naik 0,4 persen dalam perdagangan yang bergejolak.
Meski musim laporan keuangan telah berakhir, perhatian investor pekan ini tertuju pada perkembangan kecerdasan buatan saat Nvidia menggelar konferensi GTC di Silicon Valley untuk memamerkan teknologi chip dan infrastruktur AI terbaru.
Guncangan harga energi yang diperkirakan terjadi, ditambah tekanan pada anggaran fiskal akibat meningkatnya belanja pertahanan, membuat imbal hasil obligasi global melonjak tajam pekan lalu.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun berada di 4,26 persen setelah naik 32 basis poin sejak perang dimulai. Pasar berjangka juga memangkas tajam ekspektasi pemangkasan suku bunga ke depan.
Pasar memperkirakan Federal Reserve (The Fed) hampir pasti menahan suku bunga pada rapat Rabu, sementara peluang pelonggaran kebijakan pada Juni kini tinggal 26 persen, turun dari 69 persen sebulan lalu.
Investor akan mencermati nada pernyataan kebijakan dan konferensi pers, termasuk apakah proyeksi median “dot plot” para pembuat kebijakan akan menghapus kemungkinan pemangkasan suku bunga tambahan tahun ini.
Secara umum, hasil rapat bank sentral lain diperkirakan tetap hati-hati dan stabil, kecuali Reserve Bank of Australia (RBA) yang diperkirakan menaikkan suku bunga acuan seperempat poin menjadi 4,1 persen untuk menahan kembali tekanan inflasi domestik. (Aldo Fernando)