sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Bursa Asia Melemah di Tengah Ketegangan AS-Iran, Harga Minyak Masih di Atas USD100

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
05/05/2026 09:37 WIB
Bursa saham Asia bergerak melemah pada perdagangan Selasa (5/5/2026), di tengah dinamika konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang masih berlangsung.
Bursa Asia Melemah di Tengah Ketegangan AS-Iran, Harga Minyak Masih di Atas USD100. (Foto: Reuters)
Bursa Asia Melemah di Tengah Ketegangan AS-Iran, Harga Minyak Masih di Atas USD100. (Foto: Reuters)

IDXChannel – Bursa saham Asia bergerak melemah pada perdagangan Selasa (5/5/2026), di tengah dinamika konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang masih berlangsung di Selat Hormuz.

Pelaku pasar cenderung berhati-hati meski ada upaya gencatan senjata, seiring kedua negara tetap saling melancarkan serangan di jalur pelayaran energi tersebut.

Indeks saham kawasan Asia-Pasifik di luar Jepang tercatat turun 0,3 persen. Tekanan terlihat di sejumlah bursa utama, dengan saham Australia melemah 0,4 persen, indeks Hang Seng Hong Kong turun 0,79 persen, dan Straits Times Singapura terkoreksi 0,27 persen.

Sementara itu, pasar Jepang dan Korea Selatan tutup karena libur.

Sentimen global turut tertekan. Kontrak berjangka (futures) indeks utama Wall Street seperti Nasdaq dan S&P 500 masing-masing turun tipis sekitar 0,1 persen. Di Eropa, futures Euro Stoxx 50 melemah 0,2 persen dan FTSE tergelincir 0,75 persen.

Melansir dari Reuters, ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah AS dan Iran melancarkan serangan baru di kawasan Teluk pada Senin.

Konflik ini terjadi di tengah upaya Washington membuka jalur aman bagi kapal tanker yang sempat terjebak di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi global.

Perusahaan pelayaran global, Maersk, mengungkapkan bahwa kapal pengangkut kendaraan berbendera AS berhasil keluar dari Teluk dengan pengawalan militer Amerika.

Namun, eskalasi terbaru menunjukkan bahwa konflik di Timur Tengah masih jauh dari mereda.

Analis pasar IG, Tony Sycamore, mengatakan harapan awal terhadap operasi “Project Freedom” sebagai misi kemanusiaan tidak berjalan sesuai ekspektasi.

“Iran tidak merespons seperti yang diharapkan. Ini menunjukkan kebuntuan masih berlanjut dan situasinya tetap rapuh,” ujarnya.

Di pasar komoditas, harga minyak memang sedikit terkoreksi setelah melonjak tajam sehari sebelumnya. Minyak Brent turun 0,5 persen ke USD113,85 per barel, sementara minyak mentah AS (WTI) melemah 1,3 persen ke USD105,03 per barel.

Meski demikian, harga masih bertahan di atas USD100 akibat kekhawatiran gangguan pasokan.

Dari pasar mata uang, yen Jepang bergerak stabil di level 157,22 per USD, setelah sempat menguat tajam pada sesi sebelumnya. Penguatan singkat itu memicu spekulasi intervensi lanjutan dari otoritas Jepang.

Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama menegaskan pemerintah akan menindak pergerakan spekulatif di pasar valuta asing.

Pelaku pasar kini mencermati potensi intervensi baru, terutama jika nilai tukar dolar terhadap yen kembali mendekati level 160, batas yang sebelumnya kerap dipertahankan Tokyo.

Ahli Strategi Makro Asia RBC Capital Markets, Abbas Keshvani, menilai intervensi berulang bukan hal baru. “Pada 2022, Jepang melakukan tiga kali intervensi dalam beberapa pekan untuk menopang yen,” katanya. (Aldo Fernando)

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement