Iran menegaskan gencatan senjata dengan AS seharusnya mencakup penghentian konflik di Lebanon, sementara pemerintah AS menyatakan Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan tersebut.
Perbedaan pandangan ini membuat pasar tetap waspada terhadap risiko eskalasi konflik.
Di tengah situasi tersebut, harga minyak kembali menguat karena pasar menilai gangguan pasokan masih berpotensi berlanjut. Minyak Brent naik sekitar 3,1 persen ke USD97,61 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) menguat 3,6 persen ke USD97,85 per barel.
Analis Commonwealth Bank of Australia Vivek Dhar menilai risiko kenaikan harga minyak masih lebih besar dibanding penurunan selama Selat Hormuz tetap tertutup.
Menurutnya, pergerakan harga minyak akan sangat bergantung pada keberlanjutan gencatan senjata, normalisasi arus pelayaran, serta kecepatan pemulihan rantai pasok energi.