Melansir dari Reuters, meluasnya konflik memicu kekhawatiran gangguan pengiriman energi di Selat Hormuz, jalur penting perdagangan minyak dunia. Ancaman rudal dan drone telah mengurangi lalu lintas kapal tanker secara drastis.
Kondisi ini mendorong harga minyak mentah AS melonjak 8,5 persen menjadi USD81 per barel, level tertinggi sejak Juli 2024. Sementara minyak Brent naik 4,9 persen ke USD85,41 per barel.
Pelaku pasar khawatir gangguan pasokan yang berkepanjangan dapat memicu inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi global.
Di tengah situasi tersebut, investor juga menanti data ketenagakerjaan AS yang akan dirilis.
Saat ini pasar memperkirakan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) sekitar 40 basis poin tahun ini, turun dari perkiraan sekitar 50 basis poin sebelum perang pecah. (Aldo Fernando)