Konflik juga terus meningkat. Memasuki dua pekan sejak gencatan senjata praktis runtuh, militer Amerika Serikat kembali melancarkan serangan udara ke Iran.
Sementara Teheran membalas dengan meluncurkan serangan ke sejumlah negara Arab yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.
Dalam sebulan terakhir, harga Brent telah melonjak hampir 40 persen.
Chief Executive Officer deVere Group, Nigel Green, mengatakan, dikutip Reuters, pasar baru mulai menyadari besarnya dampak ketika dua jalur pelayaran minyak tersibuk di dunia terganggu secara bersamaan.
Menurutnya, kenaikan harga minyak di atas USD100 per barel berpotensi menghidupkan kembali tekanan inflasi yang sebelumnya mulai mereda, sehingga ruang bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter menjadi semakin terbatas.
Kekhawatiran inflasi juga diperparah oleh rencana pemerintah Amerika Serikat (AS) menaikkan tarif impor terhadap produk dari 60 negara mitra dagang.