Ketua partai mitra koalisi Ishin mengatakan telah bertemu dengan Takaichi pada Jumat lalu dan menyebutkan sang perdana menteri mungkin menggelar pemilu dini.
Media lokal Jepang sebelumnya melaporkan Takaichi tengah mempertimbangkan pemilu secepatnya pada bulan depan.
Jika terealisasi, pemilu tersebut akan menjadi ujian elektoral pertama bagi Takaichi, sekaligus memberi peluang untuk memanfaatkan tingginya tingkat dukungan publik sejak ia menjabat pada Oktober lalu.
“Pasar secara luas meyakini bahwa jika Takaichi membubarkan parlemen, dampaknya adalah yen yang lebih lemah, saham yang lebih tinggi, dan harga obligasi yang lebih rendah,” kata ahli strategi saham Nomura Securities, Maki Sawada.
Pandangan itu didasarkan pada keyakinan bahwa pemilu dini berarti kebijakan fiskal yang lebih agresif.