IDXChannel – Bursa saham Asia menguat pada Kamis (23/7/2026), didorong rencana belanja modal (capital expenditure/capex) yang lebih besar dari perusahaan teknologi Amerika Serikat (AS) untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI). Langkah ini diperkirakan menguntungkan produsen chip di kawasan Asia.
Di sisi lain, eskalasi konflik di Timur Tengah mendorong harga minyak ke level tertinggi dalam enam pekan.
Kenaikan harga energi kembali memicu kekhawatiran inflasi, sehingga imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) tenor pendek naik ke level tertinggi dalam 17 pekan.
Pelaku pasar pun mulai memperkirakan Federal Reserve (The Fed) mungkin perlu menaikkan suku bunga lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.
Harga minyak mentah Brent naik 2 persen menjadi USD96 per barel pada awal perdagangan setelah Amerika Serikat melancarkan gelombang serangan baru ke Iran.
Kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran juga dilaporkan menargetkan kapal tanker minyak di Laut Merah, memperluas konflik yang membayangi pasar keuangan global.
Strategis Valuta Asing dan Suku Bunga Global Macquarie Group, Thierry Wizman, mengatakan lonjakan harga minyak kembali memunculkan kekhawatiran terhadap dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi dunia.
Menurut para analis, hampir lima bulan perang telah menguras persediaan global dan memicu tekanan inflasi di berbagai negara. Mereka juga memperingatkan bahwa jika Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb di Laut Merah sama-sama ditutup, jalur pelayaran bagi lebih dari seperempat pasokan minyak dan gas dunia akan terganggu.
"Kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi global memang beralasan," ujar Wizman, dikutip Reuters.
Sementara itu, laporan keuangan Alphabet dan Tesla menunjukkan belum ada tanda-tanda perlambatan dalam belanja infrastruktur AI.
Alphabet bahkan menaikkan target belanja modal tahun ini menjadi sekitar USD195 miliar hingga USD205 miliar.
Sebagian besar belanja tersebut diperkirakan mengalir ke produsen chip Asia.
Sentimen ini mendorong indeks KOSPI Korea Selatan melonjak lebih dari 3 persen, dipimpin oleh penguatan saham SK Hynix dan Samsung Electronics. Sementara itu, indeks Nikkei Jepang naik sekitar 1 persen.
Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang juga menguat sekitar 1 persen pada awal perdagangan.
Secara mingguan, indeks tersebut berada di jalur kenaikan sekitar 3 persen, sekaligus mengakhiri tren pelemahan selama dua pekan berturut-turut.
Portfolio Manager Allspring Global Investments, Gary Tan, mengatakan prospek positif bagi produsen chip Asia didukung pertumbuhan layanan komputasi awan (cloud) yang semakin kuat, sehingga memperkuat siklus belanja AI oleh perusahaan hyperscaler.
"Pesan utamanya adalah AI bergerak sangat cepat dari sekadar pembangunan infrastruktur menuju fase disrupsi. Perusahaan hyperscaler semakin memanfaatkan AI untuk menantang pemain lama di bisnis mesin pencari dan e-commerce, sehingga semakin memperkuat tema investasi AI," kata Tan.
Musim laporan keuangan saat ini juga akan menjadi ujian apakah belanja AI dalam jumlah besar benar-benar mampu menghasilkan pertumbuhan laba yang signifikan, sekaligus membenarkan valuasi tinggi saham-saham teknologi.
Chief Market Strategist ATFX Global di Sydney, Nick Twidale, mengatakan pasar masih cenderung berhati-hati karena optimisme dari musim laporan keuangan harus berhadapan dengan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
"Kami masih memperkirakan perdagangan berlangsung hati-hati karena kabar positif dari laporan keuangan bersaing dengan eskalasi konflik di Timur Tengah," ujar Twidale. (Aldo Fernando)