sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Bursa Asia Menguat, Harga Minyak Anjlok di Tengah Harapan Damai AS-Iran

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
25/05/2026 09:34 WIB
Bursa saham Asia menguat pada Senin (25/5), sementara harga minyak anjlok setelah pejabat Amerika Serikat (AS) memberi sinyal bahwa kesepakatan dengan Iran.
Bursa Asia Menguat, Harga Minyak Anjlok di Tengah Harapan Damai AS-Iran. (Foto: Reuters)
Bursa Asia Menguat, Harga Minyak Anjlok di Tengah Harapan Damai AS-Iran. (Foto: Reuters)

IDXChannel – Bursa saham Asia menguat pada perdagangan Senin (25/5/2026), sementara harga minyak dunia anjlok setelah pejabat Amerika Serikat (AS) memberi sinyal bahwa kesepakatan dengan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz semakin dekat.

Sentimen itu mendorong minat investor terhadap aset berisiko. Indeks saham kawasan Asia versi MSCI naik 1 persen, dipimpin lonjakan indeks Nikkei Jepang sebesar 2,96 persen. Di China, Shanghai Composite menguat 0,62 persen, sementara ASX 200 Australia naik 0,61 persen dan STI Singapura bertambah 0,33 persen.

Perdagangan di Hong Kong dan Korea Selatan tutup karena libur nasional. Bursa saham AS juga libur memperingati Memorial Day.

Mengutip Money Control, optimisme pasar muncul setelah pejabat senior AS dan Iran hampir mencapai kesepakatan untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, salah satu rute distribusi energi paling vital di dunia.

Namun, proses negosiasi masih berlangsung dan persetujuan final dari kedua pihak disebut bisa memakan waktu beberapa hari lagi.

Meski demikian, kantor berita Tasnim dari Iran mengingatkan bahwa rancangan kesepakatan tersebut masih berisiko gagal karena AS dinilai menghambat sejumlah klausul penting, termasuk tuntutan Teheran agar aset-aset Iran dibekukan kembali.

Prospek meredanya ketegangan di Timur Tengah langsung menekan harga minyak. Brent merosot lebih dari 4,6 persen ke kisaran USD98,70 per barel, level terendah dalam lebih dari dua pekan, karena pasar memperkirakan aliran energi melalui Selat Hormuz akan kembali normal.

Turunnya harga minyak turut meredakan kekhawatiran inflasi global. Hal itu menopang pasar obligasi dan meningkatkan harapan pemangkasan suku bunga bank sentral. Imbal hasil obligasi pemerintah di Jepang, Australia, dan Selandia Baru tercatat turun.

Kontrak berjangka (futures) S&P 500 juga naik 0,7 persen setelah indeks acuan Wall Street itu mencatat penguatan selama delapan pekan berturut-turut, rekor terpanjang sejak 2023. Di pasar valuta asing, dolar AS melemah terhadap mayoritas mata uang utama dunia.

Aset tanpa imbal hasil seperti emas dan perak ikut menguat seiring ekspektasi inflasi yang lebih rendah membuka ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter.

Meski negosiasi menunjukkan kemajuan, Presiden AS Donald Trump mengatakan dirinya tidak akan terburu-buru menyepakati perjanjian dengan Iran.

“Pasar tampaknya masih berhati-hati tetapi cukup optimistis terhadap perkembangan di Timur Tengah, sehingga mendorong sentimen risk-on,” ujar Kepala Analis Pasar AT Global Markets, Nick Twidale.

Menurut dia, sikap Trump yang berubah cepat dari menyebut kesepakatan “segera tercapai” menjadi “tidak terburu-buru” membuat pasar masih menilai peluang tercapainya kesepakatan berada di kisaran 50:50, meski proses negosiasi dipandang sebagai perkembangan positif. (Aldo Fernando)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement