IDXChannel - Bursa saham Asia menguat pada Rabu (22/7/2026), mengikuti reli Wall Street semalam seiring pulihnya saham-saham teknologi.
Pelaku pasar untuk sementara mengesampingkan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kembali mendorong kenaikan harga minyak.
Pada awal perdagangan, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik 1,2 persen. Indeks Kospi Korea Selatan memimpin penguatan dengan melonjak lebih dari 6 persen, sementara Nikkei 225 Jepang menguat 1,9 persen.
Di China, Shanghai Composite naik 0,32 persen, sedangkan ASX 200 Australia bertambah 0,20 persen. Sebaliknya, kontrak berjangka S&P 500 turun tipis 0,1 persen.
Meski sentimen geopolitik masih membayangi pasar, investor memilih fokus pada pemulihan sektor teknologi.
Harga minyak Brent justru kembali menguat 0,6 persen ke USD91,55 per barel setelah dua kapal tanker yang mengangkut minyak mentah Arab Saudi menuju Asia berbalik arah di Laut Merah menyusul ancaman serangan dari kelompok Houthi yang didukung Iran.
Analis Westpac menilai pasar saham berhasil mengabaikan risiko geopolitik dan lebih memperhatikan prospek sektor teknologi.
"Pasar ekuitas mengabaikan risiko geopolitik dan lebih berfokus pada kinerja sektor teknologi. Setelah mengalami tekanan dalam beberapa hari terakhir, saham-saham semikonduktor berhasil bangkit," tulis Westpac dalam risetnya, dikutip Reuters.
Semalam, indeks S&P 500 ditutup menguat 0,9 persen, mengakhiri tren pelemahan selama tiga hari berturut-turut.
Reli tersebut dipimpin oleh saham-saham semikonduktor setelah data menunjukkan ekspor semikonduktor Korea Selatan hampir tiga kali lipat pada beberapa pekan pertama Juli.
Selain itu, pesanan ekspor Taiwan pada Juni juga melampaui ekspektasi pasar, memperkuat optimisme terhadap permintaan chip global.
Selanjutnya, perhatian investor akan tertuju pada musim laporan keuangan emiten teknologi raksasa Amerika Serikat (AS).
Alphabet menjadi sorotan karena menghadapi tekanan terkait tertundanya peluncuran model kecerdasan buatan (AI) andalannya. Sementara itu, Tesla diperkirakan membukukan arus kas negatif kuartalan pertama dalam lebih dari dua tahun akibat lonjakan belanja untuk pengembangan AI dan robotika.
Di sisi lain, sektor farmasi juga diperkirakan bergerak aktif setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa obat generik yang diimpor ke AS akan dikenakan tarif nol persen selama dua tahun mulai 1 Agustus.
Setelah periode tersebut berakhir, tarif akan naik menjadi 100 persen selama satu tahun dan kemudian meningkat lagi menjadi 200 persen. (Aldo Fernando)