sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Bursa Asia Reli Imbas Optimistime AI, Yen Masih Tertekan

Market news editor Rahmat Fiansyah
26/02/2026 09:52 WIB
Bursa saham Asia bergerak menguat pada Kamis (26/2/2026) pagi imbas kinerja positif Nvidia.
Bursa saham Asia bergerak menguat pada Kamis (26/2/2026) pagi imbas kinerja positif Nvidia. (Foto: iNews Media Group)
Bursa saham Asia bergerak menguat pada Kamis (26/2/2026) pagi imbas kinerja positif Nvidia. (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Bursa saham Asia bergerak menguat pada Kamis (26/2/2026) pagi setelah kinerja positif Nvidia meredakan kekhawatiran terkait disrupsi kecerdasan buatan (AI). Sementara mata uang yen masih tertekan di tengah ketidakpastian arah suku bunga bank sentral Jepang.

Dikutip dari Reuters, kekhawatiran atas meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran turut menjaga harga minyak tetap tinggi menjelang putaran ketiga perundingan kedua negara tersebut.

Saham Nvidia (NVDA) memproyeksikan pendapatan kuartal I-2026 di atas estimasi, didorong belanja besar perusahaan teknologi terhadap prosesor AI. Hasil ini menjadi perhatian investor karena meredakan sebagian kekhawatiran atas besarnya belanja AI.

Optimisme tersebut mendorong indeks Nikkei 225 menembus rekor tertinggi pada awal perdagangan. Indeks KOSPI juga naik 2 persen, sementara indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang menguat 0,7 persen.

Chief Investment Strategist Saxo, Charu Chanana mengatakan kinerja Nvidia cukup kuat untuk menjaga siklus belanja modal AI tetap berjalan.

“Reaksi pasar langsung terlihat sebagai kelegaan, yang diterjemahkan menjadi sentimen risk-on moderat setelah volatilitas akibat AI dalam beberapa pekan terakhir,” ujarnya.

Portofolio Manajer Janus Henderson Investors, Richard Clode mengatakan, pelaku pasar sebelumnya bersikap hati-hati terhadap perkembangan AI, mencermati imbal hasil investasi, serta potensi perubahan besar pada berbagai industri. Namun, perdebatan kini lebih berfokus pada keberlanjutan belanja AI. 

“Perdebatan bukan lagi soal hasil jangka pendek yang kuat, melainkan keberlanjutan belanja AI mengingat kekhawatiran atas monetisasi dan tekanan arus kas,” katanya.

Di pasar mata uang, yen menjadi sorotan setelah mendekati level terendah dua pekan. Pemerintah Jepang mencalonkan dua akademisi yang dinilai pro stimulus untuk bergabung dalam dewan bank sentral, memicu spekulasi bahwa normalisasi kebijakan moneter dapat tertunda. Yen menguat tipis 0,2 persen ke level 156,01 per dolar AS, namun masih melemah sekitar 0,6 persen sepanjang pekan ini.

OCBC menilai pencalonan tersebut memicu kembali kekhawatiran bahwa bank sentral akan tertinggal dalam normalisasi kebijakan. “Proyeksi USD/JPY akhir 2026 kami tetap di 149 karena mata uang ini kecil kemungkinan bertransformasi menjadi mata uang investasi kecuali bank sental lebih agresif dari perkiraan dua kali kenaikan suku bunga tahun ini,” ujarnya.

Sementara itu, dolar AS melemah dengan euro naik 0,12 persen ke USD1,1824 sementara sterling menguat 0,08 persen ke USD1,3570. Harga minyak Brent naik 0,27 persen ke USD71,04 per barel dan minyak mentah AS menguat 0,24 persen ke USD65,55 per barel di tengah kekhawatiran pasokan akibat potensi konflik militer AS-Iran. Emas spot turut menguat 0,27 persen ke USD5.184,66 per ons karena permintaan aset safe-haven.

(Rahmat Fiansyah)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement