sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Bursa Asia Tergelincir Dibayangi Aksi Jual Saham Chip, Nikkei Jatuh 4 Persen

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
17/07/2026 09:35 WIB
Bursa saham Asia melemah pada Jumat (17/7/2026), dipimpin oleh kejatuhan indeks Jepang Nikkei 225 yang jatuh lebih dari 4 persen.
Bursa Asia Tergelincir Dibayangi Aksi Jual Saham Chip, Nikkei Jatuh 4 Persen. (Foto: Reuters)
Bursa Asia Tergelincir Dibayangi Aksi Jual Saham Chip, Nikkei Jatuh 4 Persen. (Foto: Reuters)

IDXChannel – Bursa saham Asia melemah pada Jumat (17/7/2026), dipimpin oleh kejatuhan indeks Jepang Nikkei 225 yang jatuh lebih dari 4 persen di tengah aksi jual saham-saham semikonduktor.

Di saat yang sama, memanasnya kembali konflik di Timur Tengah turut mendorong kenaikan harga minyak dan memperburuk sentimen pasar.

Berdasarkan data perdagangan pagi, Nikkei 225 merosot 4,21 persen, menjadi pelemahan terdalam di kawasan.

Tekanan juga melanda bursa utama lainnya di kawasan.

Indeks Shanghai Composite turun 1,03 persen, Hang Seng Hong Kong melemah 1,26 persen, ASX 200 Australia terkoreksi 0,91 persen, sedangkan Straits Times Index (STI) Singapura turun 0,44 persen.

Pasar saham Korea Selatan tutup karena hari libur nasional.

Pelemahan pasar Asia mengikuti rotasi investor keluar dari saham-saham semikonduktor menuju sektor lain seperti perbankan.

Pergeseran tersebut terjadi setelah laporan keuangan sejumlah bank besar dinilai lebih menjanjikan, sementara saham teknologi, khususnya yang terkait kecerdasan buatan (AI), mulai menghadapi aksi ambil untung.

Analis HSBC menilai tema investasi AI di Asia kembali menghadapi ujian setelah reli kuat sepanjang tahun ini yang dipimpin oleh saham semikonduktor.

"Setelah reli yang sangat kuat, muncul kembali kekhawatiran mengenai potensi kelebihan kapasitas dalam pembangunan infrastruktur AI. Pertanyaan besarnya adalah seberapa lama siklus AI dapat berlanjut dan apakah saat ini sudah memasuki fase akhir. Meski demikian, fundamental sektor ini masih terlihat solid," tulis HSBC dalam catatannya, dikutip Reuters.

Sentimen negatif juga tercermin di pasar berjangka Amerika Serikat (AS). Kontrak berjangka (futures) Nasdaq turun 0,7 persen, S&P 500 melemah 0,4 persen, sedangkan Euro Stoxx 50 Futures terkoreksi 0,5 persen.

Di Korea Selatan, pemerintah mengumumkan larangan sementara pencatatan ETF baru yang terkait dengan sejumlah perusahaan teknologi utama.

Otoritas juga menaikkan persyaratan dana minimum bagi investor ritel untuk berinvestasi pada produk tersebut sebagai upaya meredam volatilitas pasar.

Sementara itu, harga minyak kembali menguat setelah AS melan

carkan gelombang serangan baru terhadap Iran untuk melemahkan kemampuan militernya. Ketegangan geopolitik tersebut memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Harga minyak Brent naik 0,7 persen menjadi USD84,83 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,7 persen ke USD79,49 per barel.

Secara mingguan, kedua kontrak minyak tersebut berpotensi mencatat kenaikan lebih dari 11 persen, yang menjadi penguatan terbesar sejak April.

Analis valuta asing dan suku bunga Macquarie, Thierry Wizman, mengatakan hubungan AS dan Iran kini semakin memburuk sehingga meningkatkan risiko terhadap infrastruktur minyak di kawasan.

Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga mencermati meningkatnya tensi perdagangan setelah AS memberlakukan tarif baru sebesar 25 persen terhadap Brasil, yang menambah daftar sentimen negatif bagi pasar keuangan global. (Aldo Fernando)

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement