sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Calon Gubernur BI Destry Damayanti Ungkap Penyebab Rupiah Undervalued

Market news editor Anggie Ariesta
26/08/2026 15:24 WIB
Namun, mata uang Garuda dinilai masih memiliki ruang penguatan dari posisi terkini yang bergerak di kisaran Rp17.700 per USD.
Calon Gubernur BI Destry Damayanti Ungkap Penyebab Rupiah Undervalued. Foto: TV Parlemen.
Calon Gubernur BI Destry Damayanti Ungkap Penyebab Rupiah Undervalued. Foto: TV Parlemen.

IDXChannel – Calon Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menilai posisi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat ini masih berada di bawah nilai fundamentalnya (undervalued). 

Namun, mata uang Garuda dinilai masih memiliki ruang penguatan dari posisi terkini yang bergerak di kisaran Rp17.700 per USD.

"Nilai rupiah kita sebenarnya bisa lebih rendah dari sekarang," kata Destry saat mengikuti uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Rabu (26/8/2026).

Destry menjelaskan tekanan terhadap rupiah selama ini lebih dipicu oleh akumulasi sentimen pasar, baik dari lingkup global maupun domestik, ketimbang persoalan fundamental ekonomi nasional yang sebetulnya tetap terjaga solid.

"Masalahnya ada sentimen, market sentimen itu yang bisa timbulnya macem-macem, termasuk global sentimen, ini ngumpul jadi satu sehingga ini sebabkan pergerakan rupiah menjadi seperti sekarang ini," ujar Destry.

Kondisi tersebut membuat pergerakan rupiah sangat responsif terhadap perubahan dinamika pasar. Ketika sentimen positif mengemuka, nilai tukar mampu menguat dengan cepat, begitu juga sebaliknya saat ada sentimen negatif. 

"Waktu positif itu rupiah bisa cepat turunnya dan kami akan selalu manfaatkan momentum. Pada saat sentimen positif tentu BI akan terus tetap ada di pasar, itu sudah jadi kewajiban kami jaga volatilitas dari rupiah, jadi jangka pendek ada pengaruh dari sentimen," ujarnya.

Untuk memelihara stabilitas nilai tukar dalam jangka panjang, Destry menekankan krusialnya pembenahan pada struktur sektor eksternal, khususnya melalui perbaikan neraca pembayaran (balance of payment) serta akselerasi kinerja ekspor barang dan jasa.

"Jadi untuk jangka panjangnya kita punya tantangan sektor eksternal terkait bagaimana dari neraca pembayaran, balance of payment kita menjadi pekerjaan rumah kita semua tentunya, pemerintah, BI, dan semua masyarakat kita, adalah agar ekspor kita bisa kita tingkatkan, kemudian jasa," kata Destry.

(NIA DEVIYANA)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement