Namun, CIMB IB menilai re-IPO tampaknya sulit dilakukan dalam kondisi pasar Indonesia saat ini. Sementara itu, privatisasi dinilai menjadi opsi yang lebih strategis dan kredibel.
“CIMB mencatat terdapat berbagai opsi delisting yang tersedia, termasuk skema yang memungkinkan pemegang saham minoritas tetap memiliki kepemilikan setelah delisting, dengan mengacu pada pengaturan kepemilikan minoritas yang pernah diterapkan di CIMB Thai dan CIMB Bank Malaysia sebagai preseden,” kata CIMB IB.
CIMB juga tetap mempertimbangkan kemampuan BNGA untuk menyetorkan dividen kepada induk usaha sebagai salah satu faktor penting dalam menentukan langkah strategis terhadap bank tersebut.
Dari sisi permodalan, CIMB menilai BNGA memiliki ruang untuk mengoptimalkan modal.
Rasio common equity tier 1 (CET1) BNGA mencapai 23 persen, sehingga terdapat potensi penurunan rasio menuju sekitar 20 persen, meski belum ada target resmi yang ditetapkan.