AALI
9975
ABBA
288
ABDA
7200
ABMM
1395
ACES
1370
ACST
202
ACST-R
0
ADES
3660
ADHI
890
ADMF
7600
ADMG
197
ADRO
2270
AGAR
350
AGII
1435
AGRO
1510
AGRO-R
0
AGRS
159
AHAP
72
AIMS
406
AIMS-W
0
AISA
177
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1140
AKRA
825
AKSI
795
ALDO
1320
ALKA
384
ALMI
294
ALTO
238
Market Watch
Last updated : 2022/01/14 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
509.74
0.24%
+1.24
IHSG
6693.40
0.53%
+35.05
LQ45
952.95
0.25%
+2.36
HSI
24383.32
-0.19%
-46.45
N225
28124.28
-1.28%
-364.85
NYSE
0.00
-100%
-17166.28
Kurs
HKD/IDR 1,832
USD/IDR 14,293
Emas
840,167 / gram

Dampak Lonjakan Harga Minyak Dunia ke Inflasi RI Dinilai Masih Kecil

MARKET NEWS
Dinar Fitra Maghiszha
Rabu, 03 November 2021 14:14 WIB
Walaupun, imbas naiknya harga minyak tersebut ikut mempengaruhi harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia.
Dampak Lonjakan Harga Minyak Dunia ke Inflasi RI Dinilai Masih Kecil (FOTO: MNC Media)
Dampak Lonjakan Harga Minyak Dunia ke Inflasi RI Dinilai Masih Kecil (FOTO: MNC Media)

IDXChannel - Melonjaknya harga minyak dunia dinilai tidak akan berdampak besar terhadap inflasi di Indonesia. Walaupun, imbas naiknya harga minyak tersebut ikut mempengaruhi harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia.

Ekonom Senior Bank DBS Radhika Rao mengatakan bahwa lonjakan harga minyak mentah di tingkat global memiliki dampak yang kecil terhadap inflasi di Indonesia.

Mengacu indeks harga konsumen (IHK) Januari - September 2021, memiliki rata-rata 1,5 persen yoy, di bawah target Bank Indonesia, sebesar 2-4 persen, dengan sub-indeks utama, yaitu inflasi inti (bobot 65,5 persen), inflasi barang dan jasa yang harganya diatur pemerintah (18 persen), dan komponen energi pada jalur yang masih bersahabat.

Sementara utilitas melalui komponen 'Listrik, Gas, dan Bahan Bakar Lain' memiliki bobot 5,8 poin persentase (pp), dan di kolom transportasi rendah sebesar 2,6 pp.

"Meskipun terjadi kenaikan harga minyak global, hal ini kemungkinan tidak akan menyebabkan inflasi lebih tinggi dalam waktu dekat," katanya dalam sebuah riset, kepada MNC Portal, Senin (1/11/2021).

Radhika mencermati bahwa dampak kecil kenaikan minyak terhadap inflasi disebabkan karena adanya kenaikan harga beberapa jenis bahan bakar seperti bahan bakar kelas rendah bersubsidi, yaitu bahan bakar di bawah RON92.

Selain itu, adanya tarif listrik tetap (untuk rumah tangga yang lebih kecil) dan penyesuaian triwulanan yang tertunda untuk pelanggan menengah/besar memberi pelonggaran terhadap konsumen.

Terakhir, adanya perjanjian pengadaan tetap saat pemerintah menerapkan kembali kewajiban pasar (penjualan) domestik yang diatur, dengan 25 persen dari pasokan harus dijual di dalam negeri. 

Pelanggar aturan ini akan dikenakan sanksi berat dan larangan dari pasar ekspor menguntungkan atau menyebabkan pembekuan izin ekspor. 

Sebagian besar produsen listrik juga memperoleh pasokan dengan tarif tetap, membatasi dampak tidak menguntungkan dari harga lebih tinggi di pasar internasional. 

Melihat dampak yang terbatas dari inflasi, Bank DBS memprediksi inflasi 2021 masih di sekitar 1,5 persen yoy.

"Dengan barang dan jasa yang diproduksi masih di bawah tingkat sebelum pandemi, penyesuaian harga energi tidak akan segera terjadi, bahkan saat tekanan fiskal (pengeluaran lebih besar daripada pendapatan) mungkin terlihat dengan jeda," pungkasnya. (RAMA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD