IDXChannel - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso optimistis Indonesia masih mampu mencatat keuntungan strategis di tengah bayang-bayang kebijakan proteksionisme dan tarif Amerika Serikat (AS).
Budi menilai posisi dagang Indonesia yang konsisten mencatatkan surplus besar menjadi modal kuat dalam menghadapi dinamika tarif global saat ini.
Keyakinan ini didasari oleh performa perdagangan bilateral yang menunjukkan ketergantungan pasar AS terhadap produk-produk unggulan asal tanah air. Meski ancaman tarif tambahan sering kali memicu kekhawatiran bagi banyak negara mitra dagang AS, Indonesia justru mencatatkan pertumbuhan nilai ekspor yang signifikan.
"Surplus terbesar kita itu ke Amerika ya, tahun 2025 surplus kita USD18,11 miliar, ekspor kita sekitar USD30,6 miliar. Segmentasi pasar ekspor kita 11 persen ke Amerika, jadi justru ketika ada risiko tarif resiprokal, ekspor kita terus meningkat. Makanya justru ART (American Reciprocal Tariff) ini salah satu instrumen yang bisa meningkatkan ekspor kita," ujar Budi dalam media briefing di kantor Kemendag, Jakarta, Senin (8/6/2026).
Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa hubungan dagang kedua negara sudah memiliki fondasi yang kokoh sejak lama melalui mekanisme Trade and Investment Framework Agreement (TIFA) yang telah berjalan sejak 16 Juli 1996.