Wadah ini menjadi jembatan diplomasi yang krusial untuk menegosiasikan berbagai kepentingan ekonomi, mengingat AS menyadari peran penting pasokan barang dari Indonesia bagi pasar mereka.
Pemerintah kini berfokus mengoptimalkan instrumen perdagangan baru tersebut untuk melindungi dan mengembangkan sektor-sektor industri yang menyerap banyak tenaga kerja.
Kehadiran kebijakan tarif di Amerika Serikat dipandang sebagai katalisator untuk mendorong produktivitas manufaktur nasional yang selama ini mendominasi ekspor ke Negeri Paman Sam.
"Makanya ketika ada ART itu adalah kesempatan yang bagus buat kita untuk terus meningkatkan ekspor kita. Dan yang ekspor itu kan kebanyakan produk-produk tekstil, bagian jadi, ya alas kaki, elektronik, yang itu adalah melibatkan perusahaan besar dengan waktu dan tenaga kerjanya sangat banyak," kata dia.
Dengan strategi negosiasi yang tepat dan penguatan pada sektor padat karya seperti tekstil serta elektronik, Indonesia optimistis dapat mempertahankan status surplus dagangnya.