IDXChannel - Pertumbuhan lapangan kerja sektor swasta Amerika Serikat (AS) melambat pada Juni 2026, yang memunculkan ekspektasi bahwa bank sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan sikap hawkish hingga akhir tahun.
Laporan ketenagakerjaan ADP mencatat jumlah tenaga kerja sektor swasta AS hanya bertambah 98 ribu pada Juni 2026. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 122 ribu pada Mei dan juga berada di bawah ekspektasi konsensus sebesar 113 ribu.
Melambatnya data ADP membuat konsensus pasar memperkirakan pertumbuhan non-farm payroll yang dijadwalkan dirilis Kamis (2/7/2026) waktu setempat akan turun menjadi sekitar 110 ribu dari 172 ribu pada bulan sebelumnya. Sementara itu, tingkat pengangguran diproyeksikan bertahan di level 4,3 persen.
Di sisi lain, Ketua The Fed Kevin Warsh mengatakan, tekanan inflasi mulai menunjukkan tanda-tanda mereda, meskipun inflasi AS masih berada di level 4,2 persen secara tahunan pada Mei 2026 atau jauh di atas target bank sentral sebesar 2 persen.
Meski mengakui risiko inflasi mulai berkurang, Warsh belum memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga ke depan. Sikap tersebut sejalan dengan rencananya mengurangi penggunaan forward guidance agar pasar keuangan dapat membentuk ekspektasi secara lebih mandiri tanpa terlalu bergantung pada sinyal dari bank sentral.
Menurut Stockbit, Kamis (2/7/2026), ekspektasi pasar masih mencerminkan pandangan bahwa The Fed akan tetap bersikap ketat terhadap kebijakan moneternya.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga acuan hingga akhir 2026 mencapai 83 persen per Kamis (2/7/2026), sedikit meningkat dibandingkan 81 persen pada pekan sebelumnya.
Menariknya, ekspektasi tersebut belum mampu mengangkat nilai tukar dolar AS. Indeks dolar AS (DXY) justru melemah sekitar 0,3 persen, sementara harga emas spot menguat sekitar 1 persen, mencerminkan kehati-hatian pelaku pasar menjelang rilis sejumlah data ekonomi penting.
Sebelumnya, para pejabat The Fed dalam proyeksi ekonomi Juni 2026 memperkirakan suku bunga acuan masih akan naik satu kali sebesar 25 basis poin menjadi kisaran 3,75-4 persen hingga akhir tahun.
Meski ditunjuk Presiden Donald Trump yang mendorong pelonggaran kebijakan moneter, Warsh tetap menegaskan independensi The Fed dalam menentukan arah suku bunga. Dia menggantikan Jerome Powell yang sebelumnya mendapat kritik karena dianggap terlambat memangkas suku bunga.
Stockbit menilai, investor masih perlu mencermati sejumlah agenda penting dalam waktu dekat. Selain data non-farm payroll dan tingkat pengangguran AS, perhatian pasar juga akan tertuju pada rilis data inflasi AS yang dijadwalkan pada 14 Juli 2026.
Rangkaian data makroekonomi tersebut akan menjadi faktor utama dalam menentukan arah kebijakan suku bunga The Fed. Keputusan tersebut pada akhirnya akan memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah dan aliran modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dari dalam negeri, investor juga disarankan memantau hasil tinjauan (review) peringkat utang (sovereign credit rating) Indonesia oleh S&P Global Ratings yang diperkirakan diumumkan pada Juli 2026.
(DESI ANGRIANI)