Hal tersebut di tengah loyonya mata uang Asia pada Senin setelah Presiden terpilih Amerika Serikat (AS), Donald Trump, memperingatkan negara-negara BRICS untuk tidak mendukung mata uang baru atau menghadapi tarif 100 persen.
Ancaman ini memicu kekhawatiran di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Baht Thailand menjadi yang paling terdampak, turun hingga 0,7 persen, diikuti oleh ringgit Malaysia dan dolar Singapura yang masing-masing kehilangan sekitar setengah persen.
Rupiah juga melemah 0,35 persen ke Rp15.895 per USD.
Secara teknikal, level support di Rp15.920-15.945 per USD menjadi area kritis, di mana penembusan level psikologis Rp16.000 dapat memicu pelemahan lebih lanjut, ke level 16.250-Rp16.325, yang sebelumnya tercatat pada Agustus 2024.
Ancaman tarif dari Trump tidak hanya berdampak pada mata uang, tetapi juga memicu kekhawatiran inflasi global.
Janji untuk memberlakukan tarif tinggi terhadap China dan Meksiko dapat memperkuat dolar AS, yang berpotensi memperlambat pelonggaran kebijakan moneter Bank Sentral AS Federal Reserve (The Fed).