Tekanan juga menjalar ke sejumlah grup besar lainnya, seperti Grup Sinarmas melalui PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), Grup Merdeka melalui PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), serta Grup Emtek melalui PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK).
Selain itu, saham PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE) milik Hermanto Tanoko serta saham Grup Salim seperti PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan PT Asuransi Harta Aman Pratama Tbk (AHAP) juga tak luput dari tekanan.
Sebelumnya, IHSG tercatat sempat turun tajam 8 persen secara intraday pada Rabu (28/1) dan Kamis (29/1) lalu hingga memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt) selama 30 menit.
Tekanan pasar muncul setelah pengelola indeks global MSCI menyatakan akan menunda perubahan indeks hingga regulator Indonesia menuntaskan isu kepemilikan saham yang dinilai terlalu terkonsentrasi.
Dalam penilaiannya, MSCI menyinggung adanya masalah fundamental dari sisi investabilitas atau kelayakan investasi, dengan free float menjadi sorotan utama.