"Walaupun harga saham tadi dikatakan bahwa ada mengalami tekanan di bawah sekitar 15-16 persen, enggak usah dilihat itu, (lihat) dividend ratio-nya dan dividen kita kan cukup bagus ya, jadi paling tidak bisa memberikan antara 10-11 persen return per tahun. Mau cari investasi di mana sebesar itu? Deposito saja mungkin hanya 7 persen. Reksa dana pasar uang mungkin sekitar 5,5-6 persen," katanya.
Dia meyakini tekanan pada saham BBRI bersifat sementara. Saat kondisi makroekonomi membaik, baik secara global maupun lokal, harga saham perusahaan berfundamental akan otomatis kembali naik mengikuti indeks.
Sementara itu, Direktur Finance & Strategy BRI, Achmad Royadi sebelumnya menjelaskan bahwa pelemahan harga saham BBRI saat ini merupakan refleksi dari dinamika pasar modal secara luas dan persepsi investor global, bukan penurunan kinerja internal.
Royadi menegaskan bahwa dari sisi laporan keuangan kuartal I 2026, BRI berada dalam posisi yang sangat kuat dengan pertumbuhan laba bersih mencapai 13,7 persen.
"Jadi kalau kita melihat ya, kalau melihat dari fundamental yang bagus, kami mencermati bahwa ini lebih ke faktor S&L (supply and demand) dibandingkan dengan faktor fundamental sendiri. Dari sisi fundamental kita juga selain kita yang bagus, kita juga kemarin baru di RUPS mengumumkan bahwa kita membagi dividen yang rasionya juga cukup tinggi ya, 92 persen dari laba tahun 2025," kata Royadi.
(Rahmat Fiansyah)