Sementara itu, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) dinilai lebih resilien karena memiliki portofolio bisnis yang lebih terdiversifikasi.
Namun, kondisi dapat berbeda apabila kebijakan pemerintah lebih mengarah pada kenaikan harga DMO, misalnya dari USD70 menjadi USD80-90 per ton.
Dalam skenario ini, kenaikan harga akan langsung meningkatkan nilai penjualan batu bara domestik yang sudah berjalan dan sebagian besar manfaatnya akan mengalir ke laba perusahaan.
PTBA menjadi emiten yang paling berpotensi menikmati dampak positif karena memiliki basis pasar domestik terbesar.
Sebaliknya, manfaat bagi ITMG dan AADI akan lebih terbatas karena kontribusi penjualan domestik mereka relatif kecil, hanya sekitar 19-22 persen.