sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

DOID Rugi Rp1,9 Triliun Sepanjang 2025 Imbas Gangguan Operasional dan Cuaca Buruk

Market news editor Rahmat Fiansyah
28/03/2026 07:00 WIB
Perusahaan batu bara, PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID) menghadapi tantangan berat sepanjang tahun lalu.
Perusahaan batu bara, PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID) menghadapi tantangan berat sepanjang tahun lalu. (Foto: Ist)
Perusahaan batu bara, PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID) menghadapi tantangan berat sepanjang tahun lalu. (Foto: Ist)

IDXChannel - Perusahaan batu bara, PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID) menghadapi tantangan berat sepanjang tahun lalu. Kinerja perseroan terdampak  oleh gangguan operasional yang belum pernah terjadi sebelumnya, cuaca buruk, hingga ramp-down penyelesaian kontrak di Indonesia dan Australia.

Kondisi tersebut berdampak pada biaya non-operasional berupa penyisihan piutang usaha dan penurunan nilai aset (impairment) di operasional Australia dan AS, meski diimbangi oleh keuntungan nilai wajar sebesar USD41 juta atas investasi di 29Metals.

Pendapatan BUMA turun 16 persen pada 2025 menjadi USD1,48 miliar, terutama disebabkan penurunan volume, sedangkan Average Selling Price (ASP) kontraktor tambang relatif stabil.

Volume pengupasan lapisan tanah (overburden removal) turun 19 persen menjadi 439 juta bank cubic meters (MBCM), sedangkan produksi batu bara turun 6 persen menjadi 84 juta ton. Kondisi ini dipengaruhi oleh gangguan pada kuartal I-2025, kendala cuaca, serta kontribusi yang lebih rendah dari site yang mengalami ramp-down dan yang telah selesai beroperasi.

EBITDA turun menjadi USD175 juta dengan margin 4 persen. Hal ini dipengaruhi oleh volume yang lebih rendah, biaya pesangon yang lebih tinggi, serta kenaikan biaya bahan bakar. Tanpa menghitung biaya pesangon, EBITDA mencapai USD207 juta dengan margin 17 persen.

BUMA membukukan rugi bersih USD116 juta atau setara Rp1,94 triliun pada tahun lalu. Kinerja buruk ini dipicu penurunan EBITDA, penyisihan piutang usaha dari kontrak di Australia yang berakhir, serta penurunan nilai aset pada operasional di Australia dan AS.

Namun, perseroan mencatat keuntungan nilai wajar sebesar USD41 juta dari investasi 29Metals, keuntungan selisih kurs USD36 juta, dan pembalikan pencadangan piutang setelah putusan Mahkamah Agung Queensland memenangkan BUMA Australia yang diharapkan penyelesaian keuangannya terealisasi pada 2026.

BUMA juga membukukan arus kas positif sebesar USD8 juta, lebih baik dibandingkan akhir 2024 yang negatif USD60 juta. Perseroan membukukan arus kas bebas USD55 juta pada kuartal IV-2025.

Belanja modal sepanjang 2025 terealisasi USD179 juta, relatif stabil dibandingkan 2024 dengan alokasi yang seimbang antara kebutuhan pemeliharaan dan pertumbuhan bisnis.

Direktur BUMA, Iwan Fuad Salim mengatakan, 2025 merupakan tahun yang menantang bagi grup. Dia menilai, gangguan pada kuartal I-2025 berdampak signifikan atas produksi dan pendapatan.

"Kami merespons dengan cepat melalui pengetatan disiplin operasional, penguatan pengendalian biaya dan fundamental pemeliharaan, serta pengambilan langkah-langkah tegas guna menjaga likuiditas dan memperkuat neraca keuangan. Langkah-langkah tersebut mendorong peningkatan produktivitas, biaya, dan arus kas sepanjang tahun, serta memberikan fondasi yang lebih kuat saat kami memasuki 2026," katanya melalui keterangan resmi, Jumat (27/3/2026).

(Rahmat Fiansyah)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement