Namun, sentimen domestik tersebut dinilai belum cukup kuat untuk mengimbangi tekanan dari faktor eksternal. Ibrahim memperkirakan rupiah berpotensi dibuka melemah pada awal pekan depan di kisaran Rp17.820-Rp17.880 per USD.
“Kemudian untuk rupiah sendiri walaupun kemarin menguat, pidato presiden cukup bagus juga tentang APBN tahun 2027 tetapi ada kemungkinan bahwa harga rupiah kemungkinan besar dibuka melemah mungkin karena faktor eksternal yang mempengaruhi yaitu range-nya itu di Rp17.820 sampai di Rp17.880,” tutur dia.
Ibrahim menilai dinamika geopolitik global masih menjadi salah satu faktor utama yang dapat mendorong penguatan dolar AS sekaligus memengaruhi harga komoditas energi.
Sejumlah isu yang menjadi perhatian pasar antara lain meningkatnya ketegangan hubungan AS dan Iran, konflik di Laut Merah yang melibatkan kelompok Houthi, serangan terhadap kilang minyak di Nigeria, serta eskalasi perang Rusia-Ukraina.
“Di hari Senin kemungkinan besar pasar akan tertuju terhadap data eksternal terutama dalam geopolitik di Timur Tengah yang semakin memanas dan ini akan membuat dolar itu menjadi gain up. Dolar Amerika akan mengalami penguatan sehingga berdampak terhadap pelemahan mata uang rupiah di pembukaan hari Senin,” ujar Ibrahim.