sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Dolar AS Turun dari Level Tertinggi Seiring Meredanya Ekspektasi Konflik Timur Tengah

Market news editor Nia Deviyana
10/03/2026 09:40 WIB
Hal ini turut menurunkan harga minyak yang sebelumnya melonjak tajam dan mendorong kenaikan aset berisiko. 
Dolar AS Turun dari Level Tertinggi Seiring Meredanya Ekspektasi Konflik Timur Tengah. Foto: Freepik.
Dolar AS Turun dari Level Tertinggi Seiring Meredanya Ekspektasi Konflik Timur Tengah. Foto: Freepik.

IDXChannel - Dolar Amerika Serikat (AS) kehilangan sebagian daya tariknya sebagai aset safe-haven pada Selasa (10/3/2026) seiring spekulasi perang di Timur Tengah kemungkinan tidak akan meluas. 

Hal ini turut menurunkan harga minyak yang sebelumnya melonjak tajam dan mendorong kenaikan aset berisiko. 

Dolar AS sempat menguat pada awal perdagangan Asia atas yen dan euro. Namun, mata uang tersebut mundur dari level tertinggi sehari sebelumnya setelah klaim Presiden AS Donald Trump yang mengatakan perang melawan Iran "hampir sesuai dengan rencana".

Pernyataan tersebut segera dibantah oleh Garda Revolusi Iran yang menyebut ucapan Trump sebagai omong kosong. 

Dolar Australia, mata uang yang sensitif terhadap risiko, kini stabil di USD0,7068.

Pound sterling pulih dari penurunan pada Senin dan diperdagangkan di USD1,3412, sementara dolar Selandia Baru stabil di USD0,5932.

Analisis Deutsche Bank mengatakan bahwa pergerakan pasar yang lebih besar di mana investor menjauhi aset berisiko kemungkinan baru terjadi jika harga minyak bertahan di level tinggi, terjadi perubahan kebijakan bank sentral, serta muncul tanda-tanda nyata perlambatan ekonomi yang lebih luas.

"Seberapa dekat kita dengan ambang batas tersebut? Jauh lebih dekat dibandingkan seminggu lalu. Namun pada beberapa indikator, kita belum benar-benar sampai di sana. Itu menjelaskan mengapa pasar saham belum mengalami penurunan ke level bear market seperti yang terjadi pada 2022," kata ahli strategi Henry Allen, merujuk pada dampak guncangan energi setelah invasi Rusia ke Ukraina.

(NIA DEVIYANA)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement