Pinjaman tersebut merupakan bagian dari fasilitas dengan plafon maksimal Rp5 triliun dan dikenakan bunga sekitar 7,5 persen per tahun. Dengan pencairan awal tersebut, beban bunga diperkirakan mencapai Rp150 miliar per tahun.
Rencana akuisisi juga berdampak terhadap struktur keuangan DOOH. Berdasarkan laporan keuangan proforma per 30 Juni 2026, total aset perseroan diproyeksikan meningkat dari Rp406,51 miliar menjadi Rp2,406 triliun, sementara liabilitas naik dari Rp96,97 miliar menjadi Rp2,096 triliun.
Rasio liabilitas terhadap ekuitas atau debt to equity ratio (DER) juga meningkat dari 0,31 kali menjadi 6,77 kali. Jika seluruh plafon pinjaman ditarik, DER diperkirakan mencapai 16,47 kali. Untuk mengelola struktur permodalan, DOOH berencana melunasi dan/atau mengonversi pinjaman melalui penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD I).
Manajemen menyebut akuisisi tersebut merupakan bagian dari perubahan arah bisnis perseroan setelah SII menjadi pengendali pada 30 Juli 2026. DOOH akan memperluas fokus ke infrastruktur telekomunikasi dan konektivitas, pusat data, serta infrastruktur kecerdasan buatan (AI). INET dinilai relevan dengan strategi tersebut karena menjalankan bisnis penyedia layanan internet, pusat data, dan kabel bawah laut.
Pada semester I 2026, INET membukukan pendapatan Rp926,45 miliar dan laba periode berjalan Rp34,21 miliar. DOOH juga melihat peluang sinergi melalui jaringan Free WiFi Ads di 80 stasiun dan 304 layar informasi di gerbong KRL.
(Shifa Nurhaliza Putri)