Analis juga memangkas proyeksi laba AADI untuk 2026 dan 2027 masing-masing sebesar 10,8 persen dan 11,4 persen.
Revisi tersebut terutama mempertimbangkan penurunan estimasi volume penjualan batu bara serta kenaikan asumsi DMO dari 25 persen menjadi 30 persen seiring meningkatnya kebutuhan listrik domestik.
Sejumlah faktor yang dapat menjadi katalis saham AADI antara lain meningkatnya permintaan batu bara selama musim dingin, tambahan pendapatan dari penyewaan pembangkit listrik Kaltara, serta realisasi potensi dividen spesial.
Di sisi lain, risiko yang perlu dicermati mencakup gangguan pasokan akibat El Nino, pelemahan harga batu bara, dan peningkatan kebutuhan listrik domestik. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.