Dia juga menilai tekanan terhadap nilai tukar rupiah saat ini cukup besar. Bahkan, tanpa intervensi kuat dari otoritas moneter, pelemahan rupiah berpotensi terjadi lebih dalam.
"Sekarang aja, itu kalau nggak BI all out melakukan intervensi, udah tembus tujuh, kemarin diperdagangkan Rp17.300, di bank-bank, di luar forex market ya, detail market namanya," kata dia.
Ferry menambahkan, tekanan ekonomi tidak hanya berasal dari faktor global, tetapi juga dari kondisi domestik. Dia mempertanyakan mengapa pertumbuhan ekonomi sebesar 5,11 persen yang dilaporkan sebelumnya justru diikuti dengan penurunan outlook oleh lembaga pemeringkat internasional.
Lebih lanjut, kata dia, pelemahan rupiah juga terjadi di tengah kondisi di mana beberapa mata uang negara lain justru menguat terhadap dolar AS. Hal tersebut menunjukkan adanya tekanan pada fundamental ekonomi domestik.