Selain itu, TGUK juga mencatat laba operasional sebesar Rp3,3 miliar dari sebelumnya rugi Rp4,1 miliar. Beban usaha tumbuh 33 persen menjadi Rp6,1 miliar, dipicu beban gaji dan tunjangan yang naik dua kali lipat menjadi Rp1,74 miliar. Kenaikan pos ini menandakan mulai kembalinya aktivitas operasional perseroan.
TGUK juga mencatat laba bersih sebesar Rp2,4 miliar pada kuartal I-2026. Perbaikan kinerja bottom line tersebut berasal dari bisnis daging yang mencetak laba usaha Rp8,54 miliar. Sedangkan bisnis makanan dan minuman mencatat rugi operasional Rp37,6 miliar.
Bisnis minuman dan makanan Teguk memang terus tertekan. Sepanjang 2025, perseroan telah menutup hingga 84 persen dari total gerai dengan membukukan kerugian dalam dua tahun terakhir sebesar Rp104,1 miliar.
Meski laba rugi mencatat adanya perbaikan yang signifikan, laporan arus kas (cashflow) menunjukkan penerimaan kas dari pelanggan hanya tercatat sebesar Rp21,5 miliar. Hal ini membuat arus kas dari aktivitas operasi masih negatif Rp1 miliar.
Piutang usaha membengkak dari Rp19,1 miliar menjadi Rp198,4 miliar, menunjukkan penjualan belum terealisasi menjadi kas. Utang usaha juga naik dari Rp27,9 miliar menjadi Rp174,6 miliar.