Sentimen tersebut menekan pasar saham domestik. IHSG turun tajam 11,6 persen pada 16 Oktober dan kembali turun 3,6 persen pada 19 Oktober hingga ditutup di level 4.996, atau sekitar 42 persen di bawah posisi akhir 2025.
Di tengah tekanan tersebut, harga emas batangan Antam ukuran 1 gram tercatat naik 2 persen sepanjang tahun berjalan menjadi Rp2.550.000 per 22 Oktober 2026.
Namun, kenaikan itu belum mampu mengimbangi pelemahan rupiah sebesar 7,8 persen terhadap dolar AS ke level Rp18.050 per USD.
Menurut Fauzan, kondisi tersebut memperkuat alasan bagi investor untuk mempertimbangkan alokasi emas sebagai pelengkap investasi saham Indonesia.
Salah satu alternatifnya adalah reksa dana yang diperdagangkan di bursa atau exchange-traded fund (ETF) emas, yang dapat dibeli melalui rekening efek yang sama dengan saham.