sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Eskalasi AS-Iran Tekan S&P 500 dan Nasdaq, Saham Chip Melemah

Market news editor Nia Deviyana
13/07/2026 22:08 WIB
Eskalasi baru Amerika Serikat (AS) dan Iran di kawasan Teluk mendorong kenaikan harga minyak dan memicu kekhawatiran investor.
Eskalasi AS-Iran Tekan S&P 500 dan Nasdaq, Saham Chip Melemah. Foto: iNews Media Group.
Eskalasi AS-Iran Tekan S&P 500 dan Nasdaq, Saham Chip Melemah. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Wall Street dibuka beragam pada Senin (13/7/2026) dengan indeks S&P 500 dan Nasdaq melemah. Eskalasi baru Amerika Serikat (AS) dan Iran di kawasan Teluk mendorong kenaikan harga minyak dan memicu kekhawatiran investor. Sementara itu, saham-saham semikonduktor melanjutkan tren penurunannya.

Melansir Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average naik 186,23 poin atau 0,35 persen menjadi 52.831,59. Sementara itu, S&P 500 turun 12,56 poin atau 0,17 persen menjadi 7.562,31 dan Nasdaq Composite melemah 213,76 poin atau 0,82 persen menjadi 26.067,85.

AS dan Iran saling melancarkan serangan selama akhir pekan. Teheran juga menyatakan telah menutup Selat Hormuz, jalur penting bagi pasokan energi global. Eskalasi ini mengganggu kesepakatan sementara yang ditandatangani bulan lalu, yang bertujuan membuka kembali selat tersebut dan mengakhiri perang setelah 60 hari perundingan.

Kontrak berjangka minyak mentah naik lebih dari 3 persen setelah investor mempertimbangkan kembali ancaman terhadap jalur pelayaran tersebut. Indeks Nasdaq yang didominasi saham teknologi memimpin pelemahan, dengan saham-saham semikonduktor menjadi salah satu penyumbang penurunan terbesar.

“Konflik Iran yang semakin memanas sedang menguji apakah pertumbuhan pasar saham yang berbasis luas dapat bertahan. Pasar harus menyeimbangkan sentimen positif dari kuatnya laba perusahaan dengan sentimen negatif dari risiko geopolitik,” kata Chief Investment Officer Resonate Wealth Partners, Alex Guiliano.

Produsen chip memori yang sebelumnya mencatat reli tajam sepanjang tahun ini memperpanjang koreksinya. Saham Micron Technology (MU.O) turun 7,2 persen, sedangkan Sandisk (SNDK.O) anjlok 9,5 persen. Keduanya menjadi salah satu saham dengan penurunan terbesar di indeks acuan S&P 500.

Empat dari 11 sektor dalam S&P 500 diperdagangkan di zona merah, dengan sektor teknologi informasi turun 1,3 persen dan menjadi sektor dengan kinerja terburuk.

Indeks Philadelphia Semiconductor (SOX) turun 3,6 persen. Indeks tersebut kini telah terkoreksi lebih dari 14 persen dari rekor tertingginya yang dicapai pada akhir Juni.

Saham SK Hynix yang diperdagangkan di Amerika Serikat juga turun 7 persen setelah mencatat debut yang kuat di Nasdaq pada Jumat lalu.

Dow Jones yang berisi saham-saham unggulan mampu bertahan di zona hijau berkat kenaikan saham IBM dan UnitedHealth.

Pergerakan pasar terjadi menjelang pekan yang padat dengan rilis data ekonomi dan laporan keuangan perusahaan, yang diperkirakan menguji ketahanan reli pasar saham AS serta kondisi fundamental korporasi.

S&P 500 mencatat kenaikan mingguan untuk dua pekan berturut-turut pada pekan lalu, meskipun pasar diwarnai volatilitas saham semikonduktor dan meningkatnya ketegangan AS-Iran yang kembali memunculkan kekhawatiran terhadap inflasi.

Sejumlah bank besar Wall Street akan memulai musim laporan keuangan kuartal II pekan ini.

Laba perusahaan-perusahaan dalam indeks S&P 500 diperkirakan tumbuh 23,7 persen pada kuartal II dibandingkan periode yang sama tahun lalu, berdasarkan data LSEG I/B/E/S.

Investor juga akan mencermati sejumlah data ekonomi penting, dimulai dari rilis indeks harga konsumen (CPI) Amerika Serikat pada Selasa. Data inflasi tersebut berpotensi mengubah ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga.

Pada Selasa, Ketua The Fed Kevin Warsh dijadwalkan menyampaikan pandangan pertamanya mengenai kebijakan moneter di hadapan Kongres. Sementara itu, Gubernur The Fed Christopher Waller dijadwalkan berbicara mengenai prospek ekonomi pada Senin.

Berdasarkan data LSEG, pelaku pasar memperkirakan setidaknya ada satu kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin hingga akhir tahun.

(NIA DEVIYANA)

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement