"Kami dapat meninjau kembali peringkat perusahaan apabila ADHI mampu mengatasi permasalahan terkait kewajiban utang yang jatuh tempo tersebut, termasuk menunjukkan kapasitas dan resolusi yang berkelanjutan atas kewajiban keuangan yang akan jatuh tempo dalam waktu dekat," kata Pefindo dalam laporannya.
Kendati dibayangi tekanan utang, perseroan sejatinya membukukan kenaikan laba bersih di tengah penurunan tipis pada pos pendapatan usaha sepanjang Januari–Maret 2026.
ADHI mencatatkan pendapatan usaha sebesar Rp1,66 triliun pada kuartal I-2026, menyusut tipis dari perolehan kuartal I-2025 yang senilai Rp1,68 triliun.
Dari aspek profitabilitas, perseroan mencetak laba kotor sebesar Rp553,02 miliar. Sementara itu, perolehan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) perseroan terkerek naik 46 persen YoY hingga menyentuh Rp464 miliar.
Dari sisi indikator solvabilitas dan likuiditas, rasio utang terhadap ekuitas (Debt to Equity Ratio/DER) berbasis utang berbunga (Interest Bearing Debt) berada di level 2,4 kali, rasio kemampuan membayar bunga (EBITDA to Interest/TIE) tercatat sebesar 2,55 kali, serta rasio lancar (Current Ratio) bertengger di posisi 1,01 kali. (Wahyu Dwi Anggoro)