Meski demikian, pertumbuhan beban operasional di luar bahan bakar dapat dijaga pada kisaran 3,1 perse, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pendapatan sebesar 13,2 persen. Kondisi tersebut mencerminkan perkembangan positif dalam pengendalian biaya dan peningkatan efisiensi operasional Perseroan.
Dalam periode yang sama, Garuda Indonesia Group mencatatkan laba usaha sebesar USD97,2 juta, sementara rugi periode berjalan Grup secara konsolidasi menyusut 3,0 persen secara tahunan menjadi USD179,3 juta. Capaian ini menunjukkan bahwa pertumbuhan pendapatan dan disiplin pengelolaan biaya mulai memberikan kontribusi terhadap perbaikan kinerja, meskipun tekanan biaya bahan bakar masih menjadi tantangan dalam upaya pemulihan profitabilitas secara berkelanjutan.
Diversifikasi Pendapatan Perkuat Sumber Pertumbuhan Grup
Sejalan dengan agenda transformasi, Garuda Indonesia Group terus mengoptimalkan potensi bisnis non-penerbangan sebagai salah satu sumber pertumbuhan, sekaligus memperkuat kontribusi seluruh entitas usaha dalam ekosistem bisnis Grup.
Pertumbuhan pendapatan non-penerbangan sebesar 31,3 persen antara lain ditopang peningkatan pendapatan pemeliharaan pesawat dari pelanggan eksternal GMF AeroAsia sebesar 42,4 persen serta kenaikan pendapatan layanan agen perjalanan sebesar 76,1 persen.
Perkembangan tersebut mencerminkan semakin besarnya peluang komersial dari kapabilitas bisnis Grup, sekaligus memperkuat upaya diversifikasi pendapatan untuk melengkapi kontribusi bisnis penerbangan penumpang.