sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Gejolak Pasar Buka Peluang di Saham Tambang Emas

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
10/02/2026 07:07 WIB
Di tengah koreksi dalam dan sentimen global yang masih penuh ketidakpastian, saham-saham emas mencuat sebagai opsi defensif.
Gejolak Pasar Buka Peluang di Saham Tambang Emas. (Foto: Freepik)
Gejolak Pasar Buka Peluang di Saham Tambang Emas. (Foto: Freepik)

IDXChannel - Gejolak tajam yang mengguncang pasar saham Indonesia dalam beberapa pekan terakhir seiring peringatan MSCI dan penurunan outlook Indonesia oleh Moody’s justru mulai dibaca sebagai peluang.

Di tengah koreksi dalam dan sentimen global yang masih penuh ketidakpastian, saham-saham emas mencuat sebagai opsi defensif yang dinilai memiliki fondasi kuat sekaligus prospek imbal hasil menarik bagi investor jangka menengah hingga panjang.

“Ya, di tengah carut-marut kondisi global, saham emas merupakan salah satu saham yang memiliki fundamental kuat,” ujar pengamat pasar modal Michael Yeoh, Senin (9/2/2026).

Dalam konteks pasar domestik, Michael menyebut sejumlah emiten emas yang dinilai memiliki fondasi fundamental yang solid dan masih menarik untuk dicermati investor.

“ANTM, ARCI, dan BRMS termasuk salah satunya,” kata dia.

Sementara itu, riset CGS International Sekuritas yang terbit pada 24 November 2025 mencatat reli harga emas masih menyisakan ruang keuntungan besar bagi emiten produsen emas.

Hingga 9 Februari 2026 pukul 11.31 WIB, harga emas spot (XAU/USD) telah melonjak 16 persen sejak awal tahun (year to date/YTD) ke level USD5.017 per troy ons, setelah sepanjang 2025 lalu menguat sekitar 65 persen.

Di tengah reli harga tersebut, CGS mencatat bank sentral global tetap agresif menambah cadangan emas.

Pada kuartal III-2025, pembelian bersih bank sentral mencapai 220 ton, naik 28 persen secara kuartalan dan 6 persen di atas rata-rata kuartalan lima tahun terakhir.

Survei World Gold Council juga menunjukkan mayoritas responden masih berencana meningkatkan cadangan emas dalam setahun ke depan, sehingga tren pembelian bersih diperkirakan berlanjut, meski volumenya lebih sensitif terhadap pergerakan harga.

CGS menilai level harga emas saat ini jauh di atas asumsi harga emas broker tersebut untuk tahun buku 2026 sebesar USD3.600 per troy ons.

Kondisi ini membuka potensi lonjakan margin yang signifikan bagi produsen emas yang berada dalam cakupan riset mereka.

Dengan asumsi harga tersebut, ARCI dan MDKA (Pani Gold) diperkirakan mampu mencetak margin EBITDA 40-50 persen pada 2026, jauh lebih tinggi dibandingkan produsen nikel kelas II yang hanya diproyeksikan membukukan margin EBITDA sekitar 20 persen.

CGS juga mengestimasi setiap kenaikan 1 persen harga emas berpotensi meningkatkan target harga ARCI dan MDKA sekitar 2 persen.

Untuk ARCI, CGS mempertahankan rekomendasi tambah (add).

Saham ARCI saat ini diperdagangkan pada valuasi sekitar 13 kali price to earnings (P/E) 2026, jauh di bawah rata-rata emiten emas Indonesia yang berada di kisaran 31 kali.

CGS menilai pasar masih meremehkan pemulihan kadar emas ARCI, yang berpotensi mendorong pertumbuhan laba bersih dengan CAGR hingga 153 persen pada periode 2024-2027.

Hasil kunjungan lapangan terbaru CGS juga menunjukkan pengembangan tambang bawah tanah Kopra berjalan stabil dan mendukung produksi dengan kadar emas yang lebih tinggi.

Sementara itu, MDKA juga direkomendasikan add dengan prospek pemulihan kinerja yang kuat pada 2026.

Setelah mencatatkan rugi pada 2025, laba MDKA diperkirakan pulih berkat kontribusi produksi Pani Gold serta perbaikan kinerja segmen nikel melalui anak usaha MBMA.

CGS memperkirakan Pani Gold akan menyumbang sekitar USD113 juta terhadap EBITDA MDKA pada 2026, atau sekitar 16 persen dari total EBITDA konsolidasian, sementara laba MBMA diproyeksikan melonjak 2,7 kali secara tahunan pada periode yang sama.

Di pasar, saham-saham tambang emas melesat pada Senin (9/2/2026) seiring kenaikan logam mulia acuannya dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara umum.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) ditutup di Rp7.500 per unit, melonjak Rp1.000 atau 15,38 persen.

Lonjakan harga saham EMAS terjadi dengan volume transaksi mencapai 67,9 juta saham dan nilai transaksi sekitar Rp490,5 miliar.

Penguatan juga terjadi pada saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) yang naik 6,88 persen ke level Rp1.010 per unit. Saham BRMS diperdagangkan dengan volume besar, yakni 375 juta saham, dengan nilai transaksi sekitar Rp373,1 miliar.

Sementara itu, saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) turut menguat 6,67 persen ke harga Rp3.040, dengan nilai transaksi mencapai Rp201,7 miliar.

Saham PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) juga tak ketinggalan menguat. ARCI naik 5,30 persen ke level Rp1.690, seiring volume transaksi 97 juta saham dan nilai transaksi Rp161,5 miliar.

Nama lainnya, saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) ditutup menguat 4,85 persen ke harga Rp3.890, dengan nilai transaksi terbesar di kelompok ini, mencapai sekitar Rp562,5 miliar. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2 3 4 5 6
Advertisement
Advertisement