Kondisi ini membuka potensi lonjakan margin yang signifikan bagi produsen emas yang berada dalam cakupan riset mereka.
Dengan asumsi harga tersebut, ARCI dan MDKA (Pani Gold) diperkirakan mampu mencetak margin EBITDA 40-50 persen pada 2026, jauh lebih tinggi dibandingkan produsen nikel kelas II yang hanya diproyeksikan membukukan margin EBITDA sekitar 20 persen.
CGS juga mengestimasi setiap kenaikan 1 persen harga emas berpotensi meningkatkan target harga ARCI dan MDKA sekitar 2 persen.
Untuk ARCI, CGS mempertahankan rekomendasi tambah (add).
Saham ARCI saat ini diperdagangkan pada valuasi sekitar 13 kali price to earnings (P/E) 2026, jauh di bawah rata-rata emiten emas Indonesia yang berada di kisaran 31 kali.
CGS menilai pasar masih meremehkan pemulihan kadar emas ARCI, yang berpotensi mendorong pertumbuhan laba bersih dengan CAGR hingga 153 persen pada periode 2024-2027.