Dimencontohkan perusahaan yang sangat bergantung pada sumber daya alam, seperti sektor pertanian, berpotensi mengalami penurunan produktivitas akibat perubahan iklim. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat menekan pendapatan perusahaan dan memengaruhi keputusan investor.
"Jadi ini kan men-trigger (memicu) pertanyaan dari investor: ketika saya investasi di perusahaan yang belum memikirkan terkait dengan antisipasi dampak dari climate (lingkungan), apakah investasi yang saya masukkan ini akan return balik ke saya, atau haruskah saya mencari perusahaan lain yang telah embedded (memasukkan) dalam strategi perusahaannya terkait dengan antisipasi dari uncertainty (ketidakpastian) dari climate itu sendiri, " tuturnya.
Oleh karena itu, menurut Yuliana, Sustainability Report yang kredibel menjadi titik awal bagi perusahaan untuk menunjukkan strategi keberlanjutan sekaligus menjaga keberlangsungan usahanya di mata investor.
Selain itu, dia menekankan pentingnya perusahaan menetapkan metrik dan target yang jelas dalam pelaporan keberlanjutan. Pasalnya, laporan yang menunjukkan capaian stagnan tanpa perbaikan berisiko menurunkan kepercayaan investor terhadap efektivitas strategi ESG yang dijalankan.
"Oleh sebab itu, dari pengalaman yang kita lihat, biasanya perusahaan akan mulai men-develop governance-nya (mengembangkan tata kelola) mereka, memastikan bahwa aspek yang material ini strateginya itu akan berjalan, sehingga target yang ingin dicapai itu akan tercapai di dalam pelaporan berikutnya," tutur Yuliana.