Ancaman tersebut menghidupkan kembali kekhawatiran akan eskalasi lebih lanjut di Teluk, di mana pengiriman barang tetap sangat terbatas selama beberapa minggu.
Meningkatnya kembali harga minyak mentah juga memperkuat kekhawatiran inflasi bagi pasar keuangan, dengan biaya energi yang lebih tinggi diperkirakan akan menekan sektor transportasi, manufaktur, dan konsumen secara global jika Selat tetap diblokir.
Sementara itu Ekonomi AS menambah 178.000 lapangan kerja pada Maret 2026, menurut laporan Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) pada hari Jumat. Angka ini menyusul penurunan 133.000 (direvisi dari -92.000) dan berada di atas konsensus pasar yang memperkirakan kenaikan 60.000.
Sementara itu, Tingkat Pengangguran sedikit menurun menjadi 4,3 persen pada Maret dari 4,4 persen pada Februari, lebih baik dari perkiraan.
Dari internal, Menteri Keuangan melaporkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sampai Maret 2026 mencapai Rp240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).