Angka defisit ini lebih besar dibanding realisasi pada periode yang sama tahun lalu, yakni hanya Rp99,8 triliun atau 0,41 persen terhadap PDB. Pemerintah menargetkan batas atas defisit APBN 2026 mencapai 2,68 persen terhadap PDB.
Berdasarkan data Kementerian Keuangan, defisit anggaran berasal dari belanja total Rp815 triliun atau tumbuh 31,4 persen (yoy) dari periode yang sama tahun lalu sekitar Rp620,3 triliun. Sementara itu, penerimaan negara hanya terealisasi Rp574,9 triliun, dengan mayoritas disumbang oleh pajak yakni Rp462,7 triliun atau tumbuh 14,3 persen dari Maret tahun lalu yakni Rp404,7 triliun.
Sejalan dengan itu, pembiayaan anggaran negara sudah terealisasi Rp257,4 triliun atau tumbuh 1,9 persen (yoy). Dengan kondisi tersebut, keseimbangan primer mengalami defisit Rp95,8 triliun. Keseimbangan primer merupakan kondisi di mana total pendapatan negara dikurangi belanja negara, di luar pembayaran bunga utang.
Apabila total pendapatan negara lebih besar dibandingkan belanja negara di luar pembayaran bunga utang, maka keseimbangan primer akan positif. Namun, bila keseimbangan negatif maka total pendapatan negara lebih kecil bila dibanding belanja negara di luar pembayaran bunga utang. Keseimbangan primer surplus berarti utang lama tak perlu dibayar dengan penarikan utang baru.
Dengan berbagai sentimen di atas, untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun diproyeksi ditutup melemah pada rentang Rp17.030- Rp17.080 per USD.
(NIA DEVIYANA)