“Melalui program ini, kami tidak hanya memastikan pesawat kembali memenuhi persyaratan kelaikan dan kesiapan operasional, tetapi juga terus memperkuat kompetensi engineering dan kapabilitas GMF untuk menangani proyek-proyek dengan tingkat kompleksitas dan keamanan yang tinggi seperti modernisasi C-130 Hercules,” ujar Andi dalam keterangan resmi, Kamis (20/8/2026).
Pekerjaan utama dalam perawatan ini meliputi penggantian struktur utama pesawat (Center Wing Box) yang berperan penting untuk memperpanjang usia operasional pesawat sekitar 15–20 tahun. Selain itu, melalui Avionic Upgrade Program (AUP), sistem avionik dimodernisasi menjadi digital sesuai perkembangan teknologi dan kebutuhan operasional terkini. Kemudian, Structural Integrity Program (SIP) memastikan integritas struktur pesawat tetap terjaga agar aman dan laik terbang saat menjalankan operasi berbeban berat secara berulang.
A-1319 menjadi pesawat prototipe pertama yang menjalani modifikasi tersebut di luar fasilitas Lockheed Martin. Setelah penyelesaian pengerjaan, pesawat menjalani uji terbang yang melibatkan pilot dan awak TNI AU. Sebelumnya, para awak uji tersebut telah menyelesaikan pelatihan Initial Conversion Avionics Flight 2 System di Tampa, Florida, Amerika Serikat.
Modernisasi ini juga merupakan bagian dari program offset industri pertahanan yang diperoleh GMFI sebagai industri binaan Kemenhan melalui pembelian pesawat C-130J. Dalam program ini, GMFI mendapatkan transfer teknologi dari Lockheed Martin untuk instalasi CWBR dan AUP pada C-130H, termasuk proses sertifikasi setingkat manufaktur untuk pesawat prototipe. Dalam pelaksanaannya, GMFI berkoordinasi secara intensif dengan PT Dirgantara Indonesia (PTDI), Lockheed Martin, TNI AU, dan Kemenhan.
Seluruh proses modernisasi A-1319 mengacu pada standar regulasi yang ditetapkan oleh Indonesia Defence Airworthiness Authority (IDAA) Puslaik Kemhan melalui serangkaian proses sertifikasi kelaikan untuk memastikan pesawat siap kembali mendukung operasional TNI AU.