Di sisi lain, harga NPI relatif stabil meski biaya bahan bakar meningkat akibat konflik Amerika Serikat (AS)-Iran.
Selain itu, membaiknya kondisi cuaca setelah musim hujan pada semester I-2026 turut meningkatkan pasokan bijih nikel ke pasar sehingga menekan harga.
"Harga nikel LME yang kini berada di bawah USD18.000 per ton juga menurunkan tarif royalti bijih nikel menjadi 14 persen dari sebelumnya 15 persen, sehingga memberikan sedikit keuntungan bagi penambang bijih pihak ketiga seperti ANTM dan INCO," tulis analis Indo Premier.
Dari sisi pasokan, Indo Premier memperkirakan pemerintah tetap berhati-hati dalam menambah kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) agar tidak memicu kelebihan pasokan bijih nikel.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno sebelumnya menyatakan kenaikan kuota RKAB pada 2026 akan disesuaikan dengan kebutuhan smelter.