sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Harga Bijih Nikel Turun, Dua Saham Ini Masih Jadi Favorit Analis

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
17/07/2026 06:37 WIB
Harga bijih nikel saprolit di Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda normalisasi setelah sempat menyentuh level tertinggi sekitar USD80 per wmt.
Harga Bijih Nikel Turun, Dua Saham Ini Masih Jadi Favorit Analis. (Foto: Getty Images)
Harga Bijih Nikel Turun, Dua Saham Ini Masih Jadi Favorit Analis. (Foto: Getty Images)

Dengan kuota RKAB saat ini berada di kisaran 260 juta hingga 270 juta wmt, Indo Premier memperkirakan tambahan persetujuan kuota hanya sekitar 30 juta hingga 40 juta wmt.

Di antara emiten yang dicakup, INCO mengajukan tambahan kuota sekitar 12 juta wmt yang mencakup saprolit dan limonit untuk mendukung proyek Pomalaa High Pressure Acid Leach (HPAL). Sementara itu, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) mengincar tambahan sekitar 7 juta wmt yang akan digunakan untuk proyek PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC).

Indo Premier juga menyoroti potensi revisi formula Harga Patokan Mineral (HPM) untuk bijih limonit. Saat ini, transaksi limonit di pasar umumnya berada di kisaran USD25-USD30 per wmt, jauh di bawah HPM yang masih berkisar USD40-45 per wmt, tergantung kadar bijih dan harga nikel LME.

Berdasarkan hasil pengecekan lapangan, pemerintah disebut tengah meminta masukan pelaku industri mengenai formula baru HPM limonit. Mayoritas pelaku industri mengusulkan agar HPM disesuaikan dengan harga pasar.

Jika revisi tersebut diterapkan, beban royalti dan pajak penghasilan perusahaan dari penjualan bijih limonit diperkirakan menurun sehingga menguntungkan emiten terintegrasi seperti INCO, MBMA, dan PT Harum Energy Tbk (HRUM).

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement