IDXChannel – Harga minyak sawit mentah (CPO) bergerak dalam kisaran terbatas pada perdagangan Kamis (2/7/2026), di tengah ekspektasi peningkatan produksi yang masih membebani pasar, sementara permintaan ekspor belum menunjukkan pemulihan yang berarti.
Kontrak acuan CPO pengiriman September di Bursa Malaysia Derivatives turun 10 ringgit atau 0,22 persen menjadi 4.547 ringgit per metrik ton pada jeda perdagangan siang.
Direktur Pelindung Bestari Paramalingam Supramaniam mengatakan pasar saat ini masih kekurangan sentimen positif karena produksi terus meningkat, sedangkan ekspor masih lesu dan belum memperlihatkan tanda-tanda pemulihan.
"Dengan momentum produksi yang terus menguat, hanya tinggal menunggu waktu hingga tekanan jual semakin membebani pasar. Untuk saat ini, harga masih bergerak dalam kisaran terbatas karena pelaku pasar menunggu laporan Malaysian Palm Oil Board (MPOB)," ujarnya, dikutip Reuters.
Dia menambahkan, peningkatan stok tampaknya tidak dapat dihindari.
MPOB dijadwalkan merilis data bulanan permintaan dan pasokan pada 10 Juli.
Di pasar lain, kontrak minyak kedelai paling aktif di Bursa Dalian naik 0,48 persen, sedangkan kontrak minyak sawit turun 0,32 persen. Sementara itu, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) menguat 0,21 persen.
Harga minyak sawit cenderung mengikuti pergerakan harga minyak nabati pesaing karena bersaing memperebutkan pangsa pasar minyak nabati global.
Di sisi lain, harga minyak mentah turun sekitar 1 persen untuk hari ketiga berturut-turut setelah Qatar menyatakan Iran dan Amerika Serikat (AS) mencatat kemajuan dalam pembicaraan tidak langsung mengenai Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Pelemahan harga minyak mentah membuat minyak sawit menjadi bahan baku yang kurang menarik untuk biodiesel.
Sementara itu, ringgit Malaysia menguat 0,27 persen terhadap dolar AS, sehingga minyak sawit menjadi sedikit lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing.
Sebelumnya, kebijakan baru Indonesia yang mewajibkan pencampuran biodiesel 50 persen (B50) mulai berlaku pada Rabu.
Aturan tersebut mewajibkan penggunaan campuran 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit dan 50 persen solar konvensional, meski para pelaku industri masih menunggu revisi alokasi biodiesel dari pemerintah. (Aldo Fernando)