Di sisi lain, harga minyak mentah melanjutkan kenaikan karena upaya mengakhiri konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran belum menunjukkan kemajuan.
Penutupan sebagian Selat Hormuz masih membatasi pasokan energi dari kawasan Timur Tengah ke pasar global.
Kenaikan harga minyak mentah ini turut meningkatkan daya tarik CPO sebagai bahan baku biodiesel, sehingga memberikan sentimen penopang bagi harga.
Namun, penguatan mata uang ringgit Malaysia terhadap dolar AS sebesar 0,08 persen membuat harga CPO menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri, sehingga berpotensi menekan permintaan.
Dari sisi pasokan, perusahaan sawit pelat merah Indonesia, Agrinas Palma Nusantara, memperkirakan produksi CPO pada 2026 mencapai sekitar 2 juta ton, hampir dua kali lipat dari estimasi sebelumnya sebesar 1,07 juta ton.